Lonjakan Utang Negara: Tambahan Rp2,6 Triliun per Hari, Menguap ke Mana?

Penulis: Fakhrul Rijal 28 Mei 2026 Balikpapan Kanal: Opini Publik

Siapa yang menyangka bahwa angka di atas kertas bisa begitu menyesakkan dada ketika dihadapkan pada realitas jalanan? Ini mungkin adalah bukti paling telanjang kalau negara kita sedang salah urus. Mari kita tarik mundur sejenak ke Oktober 2024. Saat itu, Pak Prabowo dilantik menjadi Presiden dengan memikul utang warisan sebesar Rp8.560 triliun. Angka yang sudah luar biasa besar.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Per data Maret 2026—tepat dalam kurun waktu 516 hari atau sekitar 17 bulan—utang tersebut membengkak secara fantastis menjadi Rp9.920 triliun. Lantas, mengapa hal ini menjadi isu krusial? Mari kita bedah hitung-hitungannya secara rasional.

Ilustrasi grafik kenaikan ekonomi dan tumpukan dokumen kebijakan
Ilustrasi: Beban ekonomi terus bertambah, namun dampaknya pada roda perekonomian akar rumput dipertanyakan.

Matematika Sederhana: Rp2,6 Triliun Setiap Hari

Selisih antara Rp9.920 triliun dan Rp8.560 triliun adalah Rp1.360 triliun. Itu adalah tambahan utang murni yang dicetak dalam tempo 17 bulan saja. Jika kita membagi angka Rp1.360 triliun tersebut dengan 516 hari masa pemerintahan berjalan, kita akan menemukan sebuah kesimpulan yang mencengangkan.

Artinya: Pemerintah kita menambah utang baru sebesar Rp2,6 triliun setiap harinya.

Setiap hari. Termasuk di hari Minggu saat Anda beristirahat. Termasuk di hari libur nasional. Dan ya, termasuk hari ini, detik ini saat Anda membaca tulisan ini. Namun, hal yang paling berbahaya bukanlah deretan nol pada nominal tersebut. Yang jauh lebih berbahaya dan menyakitkan adalah kenyataan bagaimana rakyat dipaksa untuk ikut menanggung beban pembayaran, tanpa pernah benar-benar tahu uang tersebut dialirkan ke mana.

Sebab kenyataannya di lapangan, rakyat sama sekali tidak melihat hidupnya jadi lebih baik.

Alokasi Anggaran: Antara Janji dan Bukti Nyata

Jika negara berutang triliunan rupiah setiap hari, wajar jika logika publik mengharapkan adanya imbal balik berupa fasilitas super atau kesejahteraan yang meroket. Mari kita lakukan pengecekan realitas (reality check):

  • Apakah pendidikan makin murah? Tidak. Justru yang menjadi sorotan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang viral di berbagai lini masa karena porsinya dipangkas habis-habisan, hingga isinya lebih cocok disebut "sampah" ketimbang nutrisi yang layak bagi anak-anak bangsa.
  • Apakah ada pembangunan infrastruktur besar yang menyerap tenaga kerja dari utang itu? Sekali lagi, tidak. Yang terjadi di daerah justru sebaliknya; alokasi krusial seperti dana desa malah disunat demi mendanai agenda pengamanan elitis seperti Koperasi Merah Putih.
Potret kondisi pasar tradisional dan daya beli masyarakat yang menurun
Daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah semakin tertekan di tengah harga bahan pokok yang terus merangkak naik.

Beban di Pundak Rakyat

Bagaimana dengan urusan perut? Apakah harga pangan turun berkat injeksi dana ribuan triliun tersebut? Silakan Anda turun ke pasar dan tanya langsung kepada para ibu di sana. Sembako bukannya makin murah, malah harganya makin mencekik leher.

Kita bisa menderetkan rentetan kekecewaan ini lebih panjang lagi:

  • Apakah rakyat lebih sejahtera? Tidak sama sekali.
  • Apakah lapangan kerja makin luas terbuka? Etidak juga. Gelombang PHK masih terus menghantui kelas pekerja.
  • Ada jembatan baru yang membuka akses ekonomi? Tidak.
  • Gaji guru honorer naik signifikan? Tidak.
  • Iuran BPJS makin terjangkau untuk rakyat kecil? Juga tidak.

Lalu, Uangnya Lari ke Mana?

Ketika tidak ada satu pun perbaikan nyata yang bisa dirasakan, dipegang, atau dihirup oleh rakyat di akar rumput, sangat wajar kalau pertanyaan "uangnya ke mana?" terus bergema dan membesar bak bola salju. Publik lelah dengan retorika makroekonomi yang tidak menetes ke piring makan mereka.

Dan bagian paling ironis sekaligus menyakitkan dari skema ini adalah: utang negara yang menggunung itu tidak dibayar dari kantong pribadi para pejabat yang menandatanganinya. Ia dibayar dari jerih payah kita. Ia dipotong dari pajak kita. Pajak saya, pajak kamu, pajak kita semua—yang dipotong setiap kali kita gajian, setiap kali kita makan di restoran, setiap kali kita membeli pulsa.


Maka, izinkan kami sebagai warga negara yang patuh membayar pajak, untuk bertanya langsung, Pak Presiden:

Dengan tambahan utang Rp2,6 triliun per hari, apa yang sebenarnya berubah dalam hidup rakyat? Siapa sebenarnya yang benar-benar merasakan dan menikmati manfaat dari utang raksasa tersebut? Dan kalau pada akhirnya jawabannya bukan untuk rakyat... lalu untuk siapa semua ini?