Dalam operasi tambang, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kapasitas alat. Excavator yang mampu menggali dan memuat dengan cepat belum tentu menghasilkan produksi optimal jika dump truck yang melayaninya terlalu sedikit, terlalu banyak, atau membutuhkan waktu terlalu lama untuk kembali ke front.
Di sinilah Match Factor (MF) menjadi salah satu indikator penting. Nilai ini membandingkan kemampuan alat muat melayani dump truck dengan waktu edar armada angkut. Dengan pendekatan tersebut, kita dapat melihat apakah excavator sedang menunggu truck, atau justru truck yang mengantre di area pemuatan.
Hal yang sering luput adalah pengaruh hauling road. Jalan yang becek, lunak, bergelombang, atau memiliki tahanan tinggi dapat menurunkan kecepatan truck. Dampaknya merambat dari waktu tempuh, kemudian memperpanjang cycle time, hingga akhirnya mengubah nilai MF.

Rumus Dasar Match Factor
Secara sederhana, Match Factor membandingkan total waktu yang dibutuhkan sejumlah dump truck untuk kembali dilayani dengan kemampuan satu atau beberapa alat muat dalam mengisi truck tersebut.
- MF = Match Factor atau faktor keserasian.
- NT = jumlah alat angkut atau dump truck.
- NL = jumlah alat muat atau excavator.
- CTL = waktu pemuatan total untuk satu unit dump truck.
- CTT = waktu edar total satu unit dump truck.
Komponen waktu pemuatan dapat dihitung dari jumlah pass yang diperlukan untuk memenuhi satu truck dikalikan waktu satu siklus excavator.
Misalnya satu dump truck membutuhkan empat pass, sementara satu siklus excavator berlangsung 37,5 detik. Maka waktu pemuatan truck tersebut adalah 4 × 37,5 detik atau 2,5 menit.
Mengapa Hauling Road Bisa Mengubah Match Factor?
Pengaruh jalan masuk terutama melalui cycle time dump truck. Semakin lama truck menyelesaikan satu putaran dari loading point, menuju dumping point, kemudian kembali ke excavator, semakin kecil kemampuan armada tersebut untuk dilayani oleh alat muat.
Waktu angkut dan waktu kembali berkaitan langsung dengan jarak serta kecepatan rata-rata:
treturn = (D / Vkosong) × 60
Ketika hauling road memburuk, Rolling Resistance (RR) meningkat. Jika kondisi jalan juga memiliki kemiringan tertentu, Grade Resistance (GR) ikut berperan.
Total resistance yang lebih tinggi membatasi kecepatan rata-rata. Operator dapat harus menggunakan gear lebih rendah, sementara truck membutuhkan waktu lebih panjang untuk menempuh jarak yang sama. Akibat akhirnya adalah CTT membengkak.
Klik untuk melihat hubungan kondisi jalan dengan cycle time
Jalan keras dan rata memungkinkan truck mempertahankan kecepatan operasi lebih tinggi. Sebaliknya, jalan berlumpur, lunak, atau bergelombang meningkatkan tahanan gerak sehingga kecepatan turun.
Penurunan kecepatan tidak hanya terjadi ketika truck membawa muatan. Waktu kembali dalam kondisi kosong juga dapat meningkat karena kondisi permukaan jalan tetap sama.
Karena kedua komponen tersebut masuk ke dalam CTT, sedikit perubahan kecepatan dapat menghasilkan tambahan beberapa menit dalam satu siklus. Jika terjadi pada seluruh armada dan sepanjang shift, akumulasinya dapat menjadi kehilangan waktu produksi yang signifikan.
Simulasi Match Factor di Lapangan
Untuk melihat efeknya secara konkret, gunakan satu excavator yang melayani lima dump truck. Jarak angkut ditetapkan 2 km satu arah dan waktu pemuatan setiap truck adalah 2,5 menit.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Alat muat (NL) | 1 excavator |
| Alat angkut (NT) | 5 dump truck |
| Waktu muat (CTL) | 2,5 menit |
| Jarak angkut (D) | 2 km satu arah |
| Fixed time | 2,5 menit |
Kondisi A: Jalan Keras dan Rata
Pada kondisi jalan baik, kecepatan truck bermuatan ditetapkan 24 km/jam, sedangkan kecepatan kembali tanpa muatan 30 km/jam.
treturn = (2 / 30) × 60 = 4,0 menit
Dengan memasukkan waktu muat dan fixed time, total cycle time menjadi:
Maka Match Factor armada tersebut adalah:
Kondisi B: Jalan Rusak dan Becek
Sekarang kondisi jalan memburuk akibat hujan atau kerusakan permukaan. Kecepatan truck bermuatan turun menjadi 15 km/jam dan kecepatan kembali turun menjadi 20 km/jam.
treturn = (2 / 20) × 60 = 6,0 menit
Cycle time kemudian meningkat menjadi:
Dengan jumlah truck dan excavator yang sama, Match Factor turun:
Inti simulasi: jumlah unit tidak berubah, waktu pemuatan tidak berubah, dan jarak tetap sama. Perubahan utama berasal dari turunnya kecepatan akibat kondisi jalan. Cycle time naik dari 14 menjadi 19 menit, sehingga MF turun dari 0,89 menjadi 0,66.
Membaca Nilai Match Factor
Nilai MF bukan sekadar angka untuk dimasukkan ke laporan. Nilai tersebut membantu mengidentifikasi titik ketidakseimbangan antara alat muat dan alat angkut.
| Nilai MF | Kondisi Operasional | Dampak | Tindakan |
|---|---|---|---|
| MF = 1,00 | Keserasian teoritis | Waktu pelayanan alat muat dan waktu edar truck seimbang. | Pertahankan kondisi operasi dan kecepatan. |
| MF < 1,00 | Alat muat berpotensi idle | Truck relatif kurang atau cycle time terlalu panjang sehingga excavator dapat menunggu truck kembali. | Perbaiki hauling road atau evaluasi penambahan truck. |
| MF > 1,00 | Truck berpotensi antre | Jumlah truck relatif terlalu banyak atau cycle time terlalu cepat dibanding kemampuan loading. | Evaluasi jumlah truck atau distribusikan armada ke front lain. |
Dalam praktiknya, nilai MF harus dibaca bersama data antrean, waktu tunggu, utilisasi alat, produktivitas, serta kondisi aktual front. Angka 1,00 merupakan kondisi keseimbangan matematis, bukan jaminan bahwa seluruh sistem lapangan otomatis berjalan sempurna.
Mengembalikan MF dari 0,66 ke Sekitar 1,00
Pada kondisi jalan buruk, simulasi menghasilkan CTT sebesar 19 menit. Jika waktu pemuatan tetap 2,5 menit dan satu excavator tetap digunakan, kebutuhan jumlah truck teoritis untuk mendekati MF 1,00 dapat dihitung dengan membalik formula Match Factor.
NT = (1 × 19,0) / 2,5 = 7,6
Secara matematis, kebutuhan tersebut berada di sekitar 7–8 unit dump truck. Namun angka tersebut sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai keputusan penambahan armada.
Penambahan truck memang dapat menaikkan MF ketika masalahnya adalah kekurangan armada akibat cycle time yang panjang. Akan tetapi, jika akar masalahnya adalah jalan buruk, memperbaiki hauling road dapat menjadi variabel operasional yang perlu dianalisis bersamaan karena perubahan kecepatan akan memengaruhi CTT dan kebutuhan armada secara langsung.
Klik untuk melihat cara menggunakan hasil MF sebagai alat diagnosis
- Catat cycle time aktual setiap unit, bukan hanya rata-rata armada.
- Pisahkan waktu muat, angkut, dumping, kembali, spotting, dan waiting.
- Bandingkan kecepatan truck pada ruas jalan yang berbeda.
- Identifikasi apakah tambahan waktu terutama berasal dari antrean, kondisi jalan, jarak, atau proses loading dan dumping.
- Hitung kembali MF setelah perubahan operasional untuk melihat apakah keseimbangan armada benar-benar membaik.
Match Factor Tidak Berdiri Sendiri
Match Factor sebaiknya dipakai sebagai bagian dari analisis sistem produksi, bukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Nilai MF dapat terlihat baik secara matematis tetapi produktivitas aktual tetap rendah jika payload, availability, efisiensi kerja, atau kondisi front bermasalah.
Begitu pula ketika MF turun. Penyebabnya tidak selalu berarti jumlah dump truck kurang. Cycle time yang membesar akibat jalan rusak dapat menghasilkan efek yang sama, sehingga keputusan penambahan unit tanpa memperbaiki akar masalah perlu dihitung kembali secara menyeluruh.
Pendekatan yang lebih kuat adalah menghubungkan MF dengan data cycle time, payload, kecepatan, waktu tunggu, utilisasi alat, dan kondisi hauling road. Dengan begitu, angka MF berubah dari sekadar indikator keserasian menjadi alat bantu diagnosis untuk menentukan bagian sistem yang perlu diperbaiki.
Kesimpulan
Match Factor menggambarkan hubungan antara kemampuan excavator melayani truck dan waktu edar armada angkut. Formula dasarnya sederhana, tetapi nilainya sangat sensitif terhadap perubahan CTT.
Simulasi menunjukkan bahwa ketika kondisi jalan memburuk, kecepatan turun dari 24 menjadi 15 km/jam saat bermuatan dan dari 30 menjadi 20 km/jam saat kembali. Cycle time akhirnya meningkat dari 14 menjadi 19 menit dan MF turun dari 0,89 menjadi 0,66.
Karena itu, ketika Match Factor turun, jangan langsung melihat jumlah unit. Periksa terlebih dahulu hauling road, kecepatan aktual, komponen cycle time, serta waktu tunggu. Dari sana baru dapat ditentukan apakah solusi yang relevan adalah memperbaiki jalan, mengubah pola operasi, atau menyesuaikan jumlah dump truck.