Sisi Gelap dan Terang Gelar Kiai: Dari Kiai Tandur Sampai Kiai Ndawir 👳♂️📜

Apa Asal-Usul Sebenarnya Gelar Kiai? 🕰️

Kalau kita bicara soal gelar "Kiai" di Indonesia zaman sekarang, bayangan yang langsung muncul di kepala pasti sosok ahli agama bersorban yang sangat dihormati jamaahnya. Tapi tahukah kamu? Sebelum identik dengan ulama Islam, gelar kiai itu dulunya sangat cair dan bisa melekat ke benda atau makhluk apapun yang dianggap berwibawa, tua, dan dihormati oleh masyarakat adat.

Ilustrasi filosofi dan pergeseran makna gelar kiai di kalangan masyarakat Nusantara

Hewan seperti wedus (kambing), kebo (kerbau seperti Kiai Slamet di keraton), hingga benda mati pusaka seperti keris, sah-sah saja disebut "kiai" bila disakralkan. Namun, pergeseran makna yang radikal terjadi sejak abad ke-15 pasca era dakwah Walisongo. Sejak saat itu, nama kiai melekat kuat menjadi gelar kehormatan keagamaan, yang di ranah Arab identik dengan sebutan agung seperti Syaikh, Al-Alim, Al-Faqih, atau minimal Al-Ustadz.

Bagaimana Klasifikasi Kiai yang Positif di Masyarakat? 📖

Karena gelar kiai bermula sebagai gelar adat kultural, orang Nusantara dengan mudah menyematkan nama itu ke tokoh yang punya pengaruh sosial di masyarakat karena dekat dengan simbol-simbol agama. Hebatnya, gelar ini kadang diberikan walaupun si tokoh blas (sama sekali) tidak memiliki kapasitas keilmuan keagamaan yang mendalam. Pokoknya asal dia punya santri atau pengikut, ya otomatis dipanggil kiai.

Seiring waktu, masyarakat kita membuat kategori "Kiai Manusia" yang sangat spesifik sebagai pembeda keahlian masing-masing. Ini adalah kategori yang sangat positif:

Barangkali, semua kategori mulia di atas merujuk kepada dawuh (perkataan) Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dalam Kitab Manaqib yang masyhur beredar:

لا ينبغى لفقير أن يتصدّى و يتصدّر لإرشاد الناس إلا أن أعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك و حكمة الحكمآء

Terjemah: "Tidak pantas seseorang tampil di depan untuk membimbing manusia, kecuali Allah telah memberinya: ilmu para ulama, siyasah (kebijaksanaan mengatur) para raja, dan hikmah orang-orang bijaksana."

Mengapa Kita Harus Mewaspadai "Oknum Kiai"? ⚠️

Namun, realita tak selalu seindah teori. Di antara para kiai mulia tersebut, belakangan menjamur oknum kiai yang sangat meresahkan. Berdasarkan pengamatan, ada empat jenis kiai menyimpang yang wajib kita hindari:

Kiai-kiai jenis ini, bila tidak menyesatkan akidah, ya pasti merugikan masyarakat secara materi dan mental. Parahnya, mereka ini masih mampu menciptakan kuasa tradisional, kuasa kharisma, dan kuasa rasional-legal di lingkungannya. Sehingga, mereka sangat mudah menggerakkan massa sesuai kepentingannya walau bertentangan keras dengan syariat. Hindarilah dan jangan pernah mengikuti kiai seperti itu!

Bagaimana Cara Paling Gampang Mengukur Kiai Sejati? ⚖️

Bagi saya, patokan paling selamat untuk mengukur apakah seseorang itu kiai yang lurus atau kiai abu-abu sangatlah mudah. Cukup satu resep: Lihat akidah dan syariatnya sehari-hari!

Ada kiai kok berani menyebut orang yang masih rajin shalat lima waktu sebagai pemilik "mental bocah"? Cetho (jelas) sesat! Apalagi kalau pas bulan puasa Ramadhan, eh dia malah jedhal-jedhul udud (santai merokok) di depan umum sambil beralasan hakikat. Cetho tidak melu ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, walau tiap hari pakaiannya pakai jubah kebesaran dan mulutnya ngomongin agama setinggi langit.

Menunggu Janji Edukasi Serial 📝

Ke depannya, saya akan kuliti satu per satu empat jenis kiai yang merugikan itu, sesuai pengalaman riil saya bergaul dengan mereka, dan apa yang telah saya lakukan serta tidak saya lakukan. Simak secara serial tulisan saya ini. Semua yang saya lakukan murni demi edukasi, bukan provokasi murahan.

Salah besar bila niat ini disebut selain edukasi. Lha wong bapakku, mbahku, buyutku, canggahku, yo kiai kabeh! (Ayah, kakek, buyut saya semuanya kiai). Sampai ditarik urutan nasab ke-14, ya keluarga kami dikenal sebagai kiai kok. Pak Lek, Pak Dhe, Mbah, Buyut, ya banyak yang mengelola pesantren murni.

Karena saya hidup dan bernapas sangat dekat dengan lingkungan santri dan pesantren, saya tahu betul mana abang ijone (seluk-beluk aslinya), yang orang luar ancum-ancum (menerka-nerka) belum tentu tahu. Simak ya, saya targetkan jadwal pagi dan petang. Paling tidak akan ada enam judul esai yang turun. Saya nulis aja karena lagi males buat konten video, editnya lama dan makan waktu sampai tidak sempat muthola'ah (mengkaji kitab)!

Tentang Penulis Esai

Esai pencerahan ini ditulis langsung oleh M. Abdullah Badri, seorang tokoh literasi yang pernah menjabat sebagai mantan Sekretaris PC LTN NU Kabupaten Jepara. Lahir dari garis nasab pesantren yang kuat, tulisannya tajam mengkritik fenomena sosial-keagamaan.

Diarsipkan dan dipublikasi ulang secara digital di Layar Kosong demi meluaskan edukasi sejarah dan kewaspadaan umat.