Koperasi Merah Putih: Harapan Rakyat atau Proyek Mercusuar yang Berujung "Rumah Hantu"?
Halo pembaca pembaca. Kita lagi di masa di mana jargon "Merah Putih" nempel di mana-mana. Salah satunya yang lagi anget dan bikin dahi berkerut adalah Koperasi Merah Putih (KMP). Katanya sih mau bikin ekonomi desa mandiri, tapi kok di lapangan malah banyak yang teriak? Yuk, kita bedah tuntas pakai kacamata 5W+1H dan dengerin langsung gimana pedasnya kritik dari Bang Tere Liye soal fenomena ini.
Apa (What)?
Koperasi Merah Putih adalah proyek pembangunan ribuan gerai koperasi di tingkat desa dengan anggaran fantastis, mencapai Rp 1 Miliar lebih per lokasi.
Siapa (Who)?
Tokoh utamanya adalah pejabat pusat seperti Zulhas dan timnya, serta melibatkan Dana Desa yang harusnya untuk infrastruktur dasar.
Di Mana (Where)?
Di pelosok desa seluruh Indonesia, seringkali menyerobot fasilitas umum seperti lapangan bola, halaman sekolah, hingga tanah produktif warga.
Kapan (When)?
Target ambisius operasi besar-besaran pada Maret 2026, meski banyak gedung yang sudah jadi malah tutup terus alias "gaib".
Mengapa (Why)?
Dikritik sebagai proyek "buang duit" atau money laundry yang tujuannya sekadar menyerap anggaran besar (puluhan triliun) tanpa fondasi SDM yang jelas.
Bagaimana (How)?
Dilakukan dengan cara memangkas Dana Desa hingga 70%, memaksa pembangunan fisik gedung mewah di tengah infrastruktur jalan desa yang masih hancur.
Kritik Pedas Tere Liye: Jangan Sampai Rakyat Ditendang!
Wah wah, kalian ketua Koperasi Merah Putih di desa kalian? Tersinggung dgn postingan ini? Kalian ASN yg besok2 mau ditugaskan di Koperasi Merah Putih? Anggota koperasi? Kalian tukang bangunan? mandor proyek gedung Koperasi Merah Putih? Tersinggung? Maka, silahkan laporkan saja sana ke aparat. Bilang Tere Liye mencemarkan program Koperasi Merah Putih, pakai UU ITE. Sana! Karena kalau kalian cuma ngamuk2 di kolom komentar, ketahuan satpam, duh kasihan, kalian akan ditendang tanpa ampun.
Jangankan kalian, level bupati, gubernur, wamen, pun menteri sekalipun yg baper komen di sini, mereka ditendang! Sy malas sekali berdebat dgn orang2 tanpa data. Kamu pin sj postingan sy deh, 10-20 tahun lagi, ditungguin gimana nasib Koperasi Merah Putih ini. Bye.
Bang Tere Liye tidak main-main. Beliau menyoroti ambisi Zulhas yang menargetkan 30.000 koperasi beroperasi per Maret 2026. Logikanya begini: Alfamart saja yang bangunannya kelihatan ada di mana-mana, cuma punya sekitar 20.000 gerai. Lha ini koperasi yang antah-berantah di mana rimbanya, tiba-tiba mau muncul 30.000 sampai 80.000 unit?

Masalahnya bukan soal jumlah, tapi soal keberlanjutan. Ingat sejarah KUD (Koperasi Unit Desa) zaman Orde Baru? Dulu digadang-gadang sukses, sekarang sisa berapa? Paling cuma 2-3% yang masih napas setelah telan triliunan subsidi. Nah, sekarang sejarah mau diulang lewat KMP ini.
Tragedi Dana Desa & Infrastruktur yang Terabaikan
Ini bagian yang paling bikin miris. Bayangkan, Dana Desa yang harusnya buat benerin jalan yang kayak kubangan kerbau, malah dipangkas sampai 70% demi bangun ruko merah putih. Banyak warga bercerita: "Desa selama 5 tahun ke depan tidak bisa bangun jalan karena dananya lari ke KMP."
Para petani di pedalaman harus berjibaku dengan lumpur setiap hari buat bawa kopi atau sawit, tapi di depan mata mereka malah berdiri gedung megah 1 Miliar yang pintunya selalu terkunci. Bukankah ini namanya "Besar pasak daripada tiang"?
Kalian mau sukses Koperasi Merah Putih ini? Maka mulailah dari menaikkan kualitas SDM di desa2, di kampung2. Sekali SDM mereka bagus, mereka mikir sendiri. Tanpa modal pun mereka bisa mikir. Tapi kalian takut jika rakyat Indonesia itu pintar. Lebih baik uangnya untuk perbaikan gedung2 skolah. Membangun skolah di daerah2 pelosok. Mendirikan pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat agar berdaya & produktif.
Suara Warga: Dari "Tanah Bengkok" hingga "Bisnis Gaib"
Suara di lapangan jauh lebih pahit dari sekadar tulisan di media sosial. Di beberapa daerah, pembangunan KMP dilakukan di atas tanah bengkok desa atau sawah produktif. Lapangan sepak bola anak-anak, satu-satunya tempat hiburan warga, disikat begitu saja demi beton merah putih.
- Fasilitas Umum Hilang: Halaman sekolah pun diincar. Kalau sekolah digusur buat koperasi, mau jadi apa generasi masa depan?
- Money Laundry? Muncul kecurigaan bahwa ini cara "halus" memutar uang negara untuk kepentingan segelintir elite.
- Penggusuran Lapak: PKL yang sudah puluhan tahun jualan digusur aparat demi proyek ini.
Sebagai masyarakat, apalagi kita yang muslim, tentu merasa malu melihat praktek yang jauh dari amanah ini. Harta tidak dibawa mati, sobat. Tapi tanggung jawab atas setiap rupiah uang pajak rakyat akan ditagih di akhirat nanti.
Rakyat itu tidak muluk-muluk kok. Yang dibutuhkan itu: Sembako murah, kesehatan gratis, sekolah bagus, dan jalanan yang tidak bikin motor rontok. Bukan gedung koperasi mentereng tapi isinya kosong melompong.
Kesimpulan Akhir: Akankah Menjadi Rumah Hantu?
Jika strategi pembangunan hanya fokus pada fisik (proyek gedung) tanpa membangun kapasitas orang-orang di dalamnya, maka 10 tahun lagi kita hanya akan melihat ribuan gedung mangkrak dengan cat merah putih yang kusam. Itu bukan kesuksesan, itu pemborosan nasional di tengah rakyat yang sedang terjepit biaya hidup.
Semoga para pengambil kebijakan mau membuka telinga dan hati. Jangan sampai "Koperasi Merah Putih" hanya jadi nama cantik untuk "Korupsi Berjamaah" di tingkat desa. Mari kita kawal terus uang rakyat!