Meksiko Tolak Undangan Bergabung di Board of Peace

#Meksiko #Trump #BoardOfPeace #Gaza

📌 Apa yang terjadi? Meksiko secara resmi menolak undangan Presiden AS Donald Trump untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP). Siapa? Presiden Claudia Sheinbaum mengumumkan hal ini dalam konferensi pers pagi (mañanera) Selasa 17 Februari 2026. Mengapa? Karena Palestina, yang diakui Meksiko sebagai negara berdaulat, tidak diikutsertakan dalam pertemuan perdana BoP. Bagaimana? Meksiko hanya akan hadir sebagai pengamat melalui utusan PBB.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dalam konferensi pagi (mañanera)
Presiden Sheinbaum menjelaskan penolakan Meksiko karena ketidakhadiran Palestina. (Galo Cañas/Cuartoscuro)

Penolakan Tegas Meksiko: “Palestina Harus Ada!”

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dengan tegas menyampaikan bahwa pemerintahannya tidak akan bergabung sebagai anggota Board of Peace yang digagas Trump. “Kami sudah mengkomunikasikan keputusan ini ke AS,” ujarnya dalam mañanera dari Istana Nasional. Menurut Sheinbaum, undangan yang datang akhir Januari lalu harus ditolak karena ketidakseimbangan representasi: Israel menjadi anggota, sementara Palestina absen. “Partisipasi kedua negara, Israel dan Palestina, itu penting. Tapi tidak demikian dalam pertemuan ini,” tegasnya. Sebagai gantinya, Meksiko kemungkinan mengirim duta besar untuk PBB sebagai observer dalam pertemuan perdana BoP di Washington, DC, Kamis ini.

Board of Peace sendiri dibentuk Trump awal tahun 2026 dengan mandat mengawasi rekonstruksi Gaza serta menjamin implementasi 20 poin rencana perdamaian Trump. Sejumlah negara seperti Argentina, Hungaria, Indonesia, Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab justru menerima tawaran tersebut. Trump mengklaim badan ini akan menjadi “badan internasional paling berpengaruh dalam sejarah” dan telah mengumpulkan lebih dari 5 miliar dolar untuk rekonstruksi Gaza. Namun bagi Meksiko, prinsip pengakuan terhadap Palestina sebagai negara berdaulat tidak bisa ditawar.

Sambil Lirik Utara: Meksiko-Kanada Makin Mesra

Di tengah dinamika dengan AS, Meksiko justru memperkuat ikatan ekonomi dengan tetangga utaranya, Kanada. “Lebih dari sekadar plan B, kami sedang memperkuat hubungan dengan Kanada,” kata Sheinbaum menanggapi spekulasi bahwa Meksiko mencari jalur alternatif jika USMCA bubar. Menteri Ekonomi Marcelo Ebrard baru saja bertemu dengan Dominic LeBlanc, menteri perdagangan Kanada, dan meluncurkan rencana aksi bersama untuk integrasi ekonomi yang lebih dalam. Rombongan besar pebisnis Kanada saat ini tengah berada di Meksiko menjajaki peluang investasi.

Sheinbaum menyebutkan bahwa produk agri-pangan Meksiko punya peluang besar menembus pasar Kanada, begitu pula impor dari Kanada. “Kami ingin lebih banyak investasi perusahaan Kanada di Meksiko, dan perusahaan Meksiko juga berinvestasi di Kanada,” ujarnya. Meskipun hubungan bilateral dipererat, Presiden menegaskan USMCA tetap akan bertahan. “Mungkin ada modifikasi, tapi perjanjian itu menguntungkan ketiga negara,” tambahnya. Data menunjukkan bahwa FDI ke Meksiko mencapai rekor 40,9 miliar dolar pada sembilan bulan pertama 2025, menandakan tingginya minat investor asing.

Minat Investasi Tinggi, Birokrasi Masih Jadi PR

Ketika ditanya soal kekhawatiran investor asing, Sheinbaum awalnya membantah adanya masalah. Namun kemudian ia mengakui bahwa lama proses perizinan menjadi keluhan umum. Pemerintah menargetkan memangkas waktu dari pengumuman investasi hingga eksekusi proyek dari rata-rata 2,6 tahun menjadi hanya 1 tahun. Hal ini merupakan bagian dari Plan México, strategi nasional untuk mendongkrak iklim bisnis. Menariknya, isu keamanan dan infrastruktur yang kerap disebut sebagai penghambat tidak disinggung presiden. Ia lebih memilih menyoroti antusiasme global: “Banyak minat terhadap Meksiko.”

Para pengamat menilai daya tarik Meksiko terletak pada lokasinya yang strategis, tenaga kerja muda, serta jaringan perjanjian dagang. Namun tantangan seperti kekerasan kartel dan kelistrikan masih membayangi. Meski begitu, rekor FDI 2026 menunjukkan optimisme pasar. Kanada sendiri dipandang sebagai mitra alami untuk diversifikasi perdagangan di tengah ketidakpastian kebijakan Trump.

Konteks Sejarah dan Prinsip Luar Negeri Meksiko

Penolakan Meksiko terhadap Board of Peace bukan sekadar keputusan ad-hoc. Sejak lama Meksiko menganut Doctrina Estrada yang menekankan non-intervensi dan penyelesaian damai. Pengakuan terhadap Palestina telah dinyatakan sejak 2012 di era PBB. Sheinbaum meneruskan tradisi tersebut dengan menempatkan hak menentukan nasib sendiri sebagai prioritas. “Meksiko mengakui Palestina sebagai negara merdeka, dan kami konsisten dengan itu,” tegasnya. Sementara Board of Peace di mata Meksiko terlalu sepihak karena mengabaikan keterwakilan Palestina.

Langkah ini sekaligus membedakan Meksiko dari negara-negara Amerika Latin lainnya yang mungkin lebih akomodatif terhadap tekanan Washington. Analis hubungan internasional menilai posisi Meksiko ini memperkuat kepemimpinan moralnya di kawasan, meski secara ekonomi tetap bergantung pada AS. Namun dengan mempererat hubungan ke Kanada, Meksiko melakukan hedging tanpa harus konfrontatif.

Reaksi Internasional dan Nasib Board of Peace

Keputusan Meksiko menuai beragam reaksi. Pemerintah Palestina melalui juru bicaranya menyambut baik sikap Meksiko dan menyebutnya sebagai contoh solidaritas internasional. Sementara itu, Trump di Truth Social tetap optimis BoP akan sukses. Pertemuan perdana di Donald J. Trump Institute of Peace tetap akan dihadiri delapan negara anggota, dengan komitmen dana miliaran dolar. Namun absennya Meksiko, negara dengan pengaruh besar di Amerika Latin, menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas badan tersebut. Apakah BoP akan benar-benar netral? Kritikus menyebut inisiatif ini hanya alat untuk melegitimasi rencana Gaza versi Trump yang kontroversial.

Apa Artinya bagi Indonesia dan Dunia Muslim?

Bagi Indonesia yang juga menerima undangan bergabung, sikap Meksiko bisa menjadi bahan refleksi. Di satu sisi, bergabung dengan BoP berarti akses pendanaan rekonstruksi Gaza. Namun di sisi lain, kehadiran tanpa Palestina dianggap mengabaikan hak politik rakyat Palestina. Pemerintah Indonesia sejauh ini belum mengomentari secara detail, meskipun termasuk dalam daftar anggota BoP. Pengamat menyarankan agar Indonesia mendorong agar Palestina dilibatkan setara dalam setiap forum perdamaian.

Meksiko membuktikan bahwa negara berdaulat punya pilihan: ikut arus utama atau tetap pada prinsip. Bahkan di tengah tekanan ekonomi dan politik, nilai-nilai dapat dipertahankan. Apalagi Meksiko berhasil mengimbanginya dengan memperdalam kerja sama dagang bersama Kanada — langkah cerdas yang meminimalkan risiko.

Dampak Jangka Panjang bagi Perekonomian Meksiko

Para ekonom menilai penguatan hubungan dengan Kanada bisa menciptakan rantai pasok yang lebih tangguh di Amerika Utara, mengurangi ketergantungan pada AS. Investasi silang di sektor otomotif, energi bersih, dan teknologi digital akan meningkat. Selain itu, kejelasan regulasi dan komitmen pemangkasan birokrasi akan semakin menarik minat investor Eropa dan Asia yang ingin nearshoring ke Meksiko. Dengan nilai FDI sudah menembus rekor, prospek 2025-2026 cerah. Jika pemerintah berhasil menekan waktu izin usaha hingga 1 tahun, Meksiko bisa menjadi manufacturing hub utama dunia.

Di sisi sosial, pengakuan terhadap hak Palestina juga mendapat apresiasi dari komunitas Muslim dan progresif di Meksiko, yang jumlahnya kecil namun berpengaruh. Hal ini memperkaya diplomasi publik dan membuka peluang kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah di luar BoP.

Yang Perlu Diketahui: 5W+1H Board of Peace

Dengan memahami kerangka ini, kita bisa melihat bahwa penolakan Meksiko adalah keputusan prinsipil yang langka di tengah hiruk-pikuk politik global.

“Kedaulatan dan pengakuan terhadap negara lain adalah fondasi kebijakan luar negeri Meksiko. Kami tidak bisa duduk setara jika salah satu pihak yang bersengketa tidak dilibatkan.” — pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Meksiko.

Berdasarkan posisi Meksiko yang telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat dan menilai kedua pihak, Israel dan Palestina harus dilibatkan secara setara dalam upaya perdamaian. Menurut Sheinbaum, struktur dewan saat ini tidak dirancang untuk mencerminkan inklusivitas tersebut, sehingga negaranya memilih untuk hanya mengirim duta besar ke PBB sebagai pengamat pada pertemuan perdana yang dijadwalkan berlangsung di Washington. Langkah ini menegaskan dukungan Meksiko terhadap solusi dua negara dan konsistensinya dalam hubungan dengan Palestina, sambil tetap menjaga keterlibatan diplomatik dengan forum internasional terkait konflik Israel-Palestina.