Panduan Lengkap PUEBI & EYD Edisi Kelima untuk Tampilan Pengguna dan Lokalisasi
Pedoman ejaan Bahasa Indonesia adalah fondasi bagi setiap penulis, desainer antarmuka, dan pengembang yang ingin menghadirkan pengalaman lokal yang autentik. Artikel ini merangkum aturan PUEBI 2015 dan EYD Edisi Kelima (2022) — dua dokumen resmi yang menjadi rujukan utama ejaan bahasa Indonesia — serta memberikan panduan praktis untuk penggunaannya dalam konten digital dan Tampilan Pengguna.
Sejak 16 Agustus 2022, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) secara resmi digantikan oleh Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi Kelima. Namun bagi sebagian besar praktisi bahasa, kedua pedoman ini secara fungsional identik. Perubahan yang terjadi lebih bersifat penyempurnaan teknis dan pembaruan istilah, bukan revolusi aturan. Dengan kata lain, jika Anda sudah terbiasa dengan PUEBI, Anda tidak perlu belajar dari nol.
Mengapa pedoman ejaan ini penting, terutama untuk Tampilan Pengguna dan lokalisasi? Karena konsistensi ejaan menciptakan kredibilitas dan kenyamanan pengguna. Bayangkan jika sebuah aplikasi atau situs web menggunakan kapitalisasi yang kacau, atau penulisan angka yang tidak sesuai kaidah. Pengguna akan meragukan profesionalisme produk tersebut. Di sinilah PUEBI/EYD menjadi panduan yang tak tergantikan.
Pedoman EYD Edisi Kelima dan PUEBI: rujukan utama ejaan bahasa Indonesia untuk konten dan antarmuka.Gambar di atas merepresentasikan dua dokumen utama yang menjadi acuan: PUEBI (2015) dan EYD Edisi Kelima (2022). Meskipun secara resmi EYD Edisi Kelima yang berlaku, banyak referensi dan sumber daya daring masih menggunakan istilah PUEBI. Yang terpenting, isi aturan ejaannya sama, sehingga Anda bisa merujuk ke salah satu dokumen tersebut tanpa khawatir kehilangan esensi.
Pemakaian Huruf
Bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf alfabet Latin, dengan tambahan diakritik untuk vokal (seperti é, è, dan ê) yang digunakan pada kata serapan tertentu. Aturan dasar ejaan mencakup penggunaan huruf kapital, huruf miring, dan huruf tebal. Mari kita bedah satu per satu.
Kapitalisasi dan Aturan Huruf Besar
Huruf kapital digunakan pada:
- Awal kalimat.
- Nama diri (orang, tempat, organisasi, instansi, dan produk). Contoh: Soekarno, Jakarta, PBB.
- Nama agama, kitab suci, dan Tuhan. Contoh: Islam, Al-Qur'an, Allah.
- Nama bangsa, bahasa, dan suku. Contoh: Bangsa Indonesia, bahasa Inggris.
- Nama hari, bulan, dan tahun. Contoh: Senin, Januari, 2025 (angka tidak pakai kapital).
- Kata sapaan dan gelar. Contoh: Anda, Bapak, Ibu, Prof., Dr.
Perhatikan: kata depan di, ke, dan dari tidak ditulis dengan huruf kapital jika bukan bagian dari nama diri. Contoh: “Saya pergi ke pasar”, bukan “Saya pergi Ke pasar”. Juga, kata ganti kamu (informal) tidak dikapitalisasi, sedangkan Anda (formal) selalu dikapitalisasi sebagai bentuk penghormatan.
Penulisan Kata
Bagian ini mencakup pembentukan kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata, hingga pemenggalan kata. Aturan-aturan ini sering menjadi sumber kebingungan, terutama bagi yang baru belajar atau yang terbiasa dengan ejaan lama.
Pembentukan Kata: Dasar, Turunan, dan Gabungan
Kata Dasar
Kata dasar (root) ditulis apa adanya tanpa perubahan. Contoh: tulis, baca, jalan.
Kata Turunan (Berimbuhan)
Kata yang mendapat awalan, akhiran, atau gabungan keduanya mengikuti aturan tertentu. Misalnya, awalan me- dan pe- mengalami perubahan bentuk bergantung pada huruf pertama kata dasar (contoh: memasak, menulis, mengajar). EYD Edisi Kelima menyederhanakan beberapa aturan, misalnya tidak ada lagi penulisan ganda konsonan pada kata seperti membaca (tetap membaca, bukan membbaca).
Bentuk Ulang (Reduplikasi)
Kata ulang ditulis dengan tanda hubung, contoh: merah-merah, anak-anak, bersalam-salaman.
Gabungan Kata
Gabungan kata yang sudah padu (seperti kambing hitam yang berarti orang yang disalahkan) ditulis terpisah, kecuali jika sudah dianggap sebagai kata majemuk yang membentuk makna baru, seperti tata bahasa.
Kata Depan, Partikel, Singkatan, dan Akronim
Kata depan seperti di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali dalam kata majemuk yang sudah dianggap satu kata (misalnya kepada). Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Singkatan dan akronim mengikuti kaidah: MTampilan Pengguna, PBB, dll., hlm.
Penggunaan Tanda Baca
Tanda baca dalam bahasa Indonesia mengikuti standar internasional. Titik, koma, titik dua, titik koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, kurung, dan garis miring semuanya digunakan sesuai fungsinya masing-masing. Konsistensi dalam penggunaan tanda baca sangat memengaruhi keterbacaan.
- Titik (.): mengakhiri kalimat pernyataan.
- Koma (,): memisahkan unsur dalam daftar, anak kalimat, dan keterangan.
- Titik dua (:): memperkenalkan daftar atau kutipan.
- Poin koma (;): memisahkan bagian yang setara dalam kalimat majemuk.
- Tanda tanya (?): mengakhiri kalimat pertanyaan.
- Tanda seru (!): mengungkapkan seruan atau perintah.
- Kutip ganda ("..."): untuk kutipan langsung.
- Kutip tunggal ('...'): untuk kutipan di dalam kutipan.
- Kurung (...): untuk tambahan informasi.
- Garis miring (/): alternatif atau perbandingan.
Penulisan Unsur Serapan
Bahasa Indonesia kaya akan kata serapan dari berbagai bahasa: Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris, Portugis, dan lain-lain. Aturan ejaan mengatur bagaimana kata-kata ini disesuaikan dengan fonologi dan ortografi Indonesia.
- Kata serapan disesuaikan dengan kaidah penulisan Indonesia. Contoh: system (Inggris) menjadi sistem, telephone menjadi telepon, Internet menjadi internet (huruf kecil).
- Nama diri dan organisasi asing tidak diubah ejaannya dan ditulis tanpa huruf miring. Contoh: Microsoft, Google.
- Kata serapan dari bahasa Arab sering mempertahankan bentuk asli dengan penyesuaian, seperti Al-Qur'an, hadis (bukan hadits).
Praktik Terbaik untuk Tampilan Pengguna, Copy, dan Lokalisasi
Bagi para pengembang, desainer, dan penulis konten digital, PUEBI/EYD bukan hanya aturan akademis, tapi juga alat untuk menciptakan pengalaman pengguna yang profesional. Berikut beberapa poin kunci:
- Konsistensi: Selalu gunakan bahasa baku (standar) kecuali memang sengaja menggunakan gaya santai (misalnya pada chat atau media sosial). Untuk Tampilan Pengguna formal (error message, label, onboarding), gunakan Anda dan Bapak/Ibu sesuai konteks.
- Angka dan Bilangan: Gunakan kata untuk angka 1-2 (satu, dua), dan angka untuk 3 ke atas (3, 10, 100). Untuk mata uang, ikuti format Rp1.000.000,00 (titik pemisah ribuan, koma desimal).
- Singkatan & Akronim: Pastikan singkatan umum (seperti dll., dsb.) ditulis dengan titik, sedangkan akronim lembaga atau istilah populer (seperti MTampilan Pengguna, KBBI) ditulis tanpa titik.
- Sapaan: Pilih Anda untuk situasi formal dan kamu untuk situasi informal yang lebih akrab.
Sumber Resmi dan Referensi
Untuk memastikan akurasi, selalu rujuk ke dokumen resmi yang diterbitkan oleh pemerintah. Berikut adalah tautan yang dapat diakses secara bebas:
- PUEBI Daring: https://puebi.js.org/ — versi interaktif PUEBI 2015.
- EYD Edisi Kelima: https://eyd.netlify.app/ — pengganti resmi PUEBI sejak 2022.
- PDF Keputusan Menteri: Unduh PDF EYD Edisi Kelima (via Google Drive).
Dengan mengacu pada pedoman ini, setiap konten atau antarmuka akan memiliki citra yang kredibel dan mudah dipahami oleh pengguna Indonesia. Ejaan yang benar adalah bentuk penghormatan kepada bahasa dan penggunanya.
“Bahasa menunjukkan bangsa.” — Pepatah Indonesia