Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dalam wawancara dengan Al Jazeera mengungkap fakta mengejutkan: jet tempur F/A-18 Hornet yang dibeli Malaysia dari Amerika Serikat ternyata memiliki backdoor yang memungkinkan AS mengendalikan pesawat dari jarak jauh. Kisah ini jadi pelajaran berharga bagi negara mana pun yang ingin mandir di bidang pertahanan. Berikut outline lengkap pernyataan Mahathir (tidak diringkas) plus analisis 5W+1H ala jurnalisme santai.

Realitas yang Membuka Mata — Pelajaran bagi Para Pemimpin, Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mengatakan:
Pada tahun 2004, Malaysia membeli 8 jet tempur F/A-18 Hornet dari Amerika Serikat, yang pada saat itu termasuk pesawat tempur paling canggih. Nilai kesepakatan tersebut melebihi 640 juta dolar AS.
Setelah menerima pesawat-pesawat tersebut, Malaysia membentuk tim ahli dan insinyur untuk melakukan studi mendalam terhadap fitur serta kemampuan tempurnya. Para ahli Malaysia kemudian menemukan bahwa pesawat tersebut secara otomatis mengirimkan informasi setiap penerbangan ke sebuah pangkalan militer AS, seperti:
- Detail Misi
- Kecepatan
- Ketinggian Penerbangan
- Lokasi
- Rute Penerbangan
- Bahkan komunikasi pilot dengan ruang kendali di darat
Tidak hanya itu, sistem operasi pesawat dan fitur autopilotnya juga dapat dikendalikan dari pangkalan di AS. Artinya, jika seorang petugas militer di sana hanya menekan sebuah tombol, rute pesawat bisa diubah, pesawat bisa dijatuhkan, atau bahkan target serangannya dapat diganti.
Ketika Malaysia mencoba memodifikasi sistem operasi pesawat tersebut, Amerika Serikat dan perusahaan pembuatnya, McDonnell Douglas, menentang keras. Mereka bahkan mengancam akan menghentikan pasokan suku cadang dan perawatan, serta memberlakukan berbagai pembatasan.
Bahkan ketika Malaysia meminta komponen tertentu untuk mengaktifkan beberapa kemampuan pesawat, perusahaan tersebut juga menolaknya.
Pada akhirnya, Malaysia menyadari bahwa mereka telah membeli pesawat yang tidak dapat digunakan dalam pertempuran nyata tanpa persetujuan Amerika Serikat.
Masalah ini tidak hanya dialami Malaysia; banyak negara Arab dan negara Muslim lainnya menghadapi kenyataan yang sama.
Pelajaran:
(Sumber: Wawancara TV di Al Jazeera dengan Mahathir Mohamad)
Itulah kisah asli versi Mahathir. Sekarang kita bedah dengan kacamata 5W+1H.
Malaysia membeli 8 jet F/A-18 Hornet senilai 640 juta dolar AS (2004). Ternyata pesawat punya celah: semua data penerbangan dikirim otomatis ke AS, dan sistem bisa dikendalikan jarak jauh dari pangkalan AS. Malaysia dilarang memodifikasi.
Mahathir Mohamad (PM Malaysia saat pembelian), pemerintah Malaysia, Amerika Serikat (pemerintah & McDonnell Douglas), dan negara-negara pengguna alutsista AS lainnya.
Pembelian 2004, studi tim ahli setelahnya, dan pengakuan Mahathir dalam wawancara Al Jazeera (beberapa tahun lalu, relevan hingga 2026).
Malaysia (pembeli), AS (penjual), dan secara global negara-negara Arab/Muslim yang mengalami nasib serupa.
Karena teknologi pertahanan yang dijual biasanya menyisakan "pintu belakang" untuk kepentingan strategis penjual. Negara pembeli jadi sangat tergantung dan kehilangan kedaulatan operasional.
Negara harus mengembangkan industri pertahanan sendiri, alih teknologi, atau setidaknya membangun kemitraan yang lebih setara. Diversifikasi pemasok dan investasi riset teknologi militer.
Indonesia juga banyak membeli pesawat, kapal, rudal dari berbagai negara. Seberapa jauh kita menguasai teknologinya? Kasus Malaysia jadi peringatan.
Tak hanya jet tempur, hampir semua perangkat keras dan lunak impor berpotensi memiliki celah yang bisa dieksploitasi negara pembuat. Kemandirian teknologi mutlak.
Kerja sama pertahanan harus menyertakan transfer pengetahuan. Jika tidak, kita cuma jadi pasar abadi.
Ketergantungan alutsista bisa memengaruhi kebijakan luar negeri. Negara penjual bisa menekan pembeli lewat embargo atau ancaman.
Cerita Mahathir ini mirip dengan program MBG dan KDMP yang banyak dikritik: kita punya proyek besar tapi bergantung pada vendor asing (misal mesin, teknologi pangan, sistem logistik). Di sisi lain, rekrutmen ASN/PPPK yang masif tanpa kepastian program mirip dengan membeli pesawat tapi tak bisa dipakai. Belajar dari Malaysia, jangan sampai kita menjadi negara yang hanya jadi konsumen dan penanggung risiko, tanpa pernah mandiri. Apalagi jika puluhan ribu tenaga SPPI sudah di-ASN-kan sebelum programnya matang — itu beban jangka panjang, seperti jet tempur yang tak bisa diterbangkan tanpa izin.