Opini & Analisis

Polemik MBG pada Bulan Puasa 2026: Antara Niat Mulia, Ujian Perut, dan Nasib UMKM Kecil 🌙

27 Januari 2026 | Oleh: Fakhrul Rijal | 10 Menit Baca

Halo gimana kabarnya? Semoga iman dan dompet sama-sama tebal ya menyambut Ramadan 2026 ini. Kali ini kita bakal bahas topik yang lagi anget-anget kuku, bahkan cenderung panas, yaitu soal kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah bulan suci Ramadan.

Kebijakan pemerintah yang hendak melanjutkan program MBG selama bulan suci Ramadhan sejatinya bukan barang aneh. Tahun lalu pun anak-anak sudah “bertemu takdir” yang sama: berpuasa di siang hari, tapi tetap diberi bingkisan makanan yang wanginya kadang terasa seperti azan versi hidung. Maka jangan heran kalau di bulan penuh berkah ini, aroma telur rebus bisa terasa lebih menggoda daripada wangi surga yang sering diceramahkan ustaz di mimbar.

Ilustrasi Makanan Bergizi Gratis di Sekolah

Apa Sih yang Sebenarnya Terjadi? ("What" & "Who") 🧐

Program MBG adalah inisiatif besar dari pemerintahan Presiden Prabowo yang bertujuan memperbaiki gizi anak-anak sekolah dan menekan angka stunting. Namun, begitu masuk ke kalender Ramadan, tantangannya bukan lagi soal kalori, tapi soal sosiologi dan psikologi anak-anak. Siapa yang paling terdampak? Tentu saja para siswa, orang tua, dan yang jarang disorot: para pelaku UMKM lokal.

Memang, bagi sebagian anak, MBG di bulan Ramadhan bisa menjadi ujian iman level “mode nylekit”. Di satu sisi perut diajak bersabar, di sisi lain tas sekolah berisi godaan. Tidak menutup kemungkinan akan lahir generasi baru “pejuang sembunyi-sembunyi”, yang dengan jurus ninja membuka bungkus roti, mengisap susu dengan sunyi, lalu mengunyah kurma sepelan detak jam dinding. Semua demi satu tujuan mulia: mengalahkan lapar tanpa diketahui asisten malaikat pencatat di bumi.

"Kasih uangnya aja Pak daripada makan basah yang menikmati orang-orang tertentu, malah kadang terbuang. Kalo diuangkan, anak-anak bisa jajan, bisa beli makan sendiri, orang tua seneng, harga ayam normal dan sembako lainnya."
, Suara salah satu orang tua siswa.

Catatan Kritis dari Pelaku Lapangan ("Why") 📉

Aku bukan politisi. Aku cuma pelaku usaha kecil yang tiap hari hidup dari perputaran ayam, sembako, dan UMKM di lapangan. Sejak program MBG berjalan, ada beberapa hal yang jujur bikin aku dan banyak pelaku usaha kecil bingung. Mengapa niat baik ini justru terasa membebani sebagian pihak?

5 Dampak Buruk & Kendala MBG bagi UMKM:

  • Harga sembako terdorong naik: Permintaan besar-besaran untuk program nasional ini bikin harga sembako jarang turun. Beban ini akhirnya jatuh ke pundak ibu rumah tangga dan konsumen kecil.
  • Janji melibatkan UMKM tidak terasa: Dapur MBG banyaknya ambil bahan langsung dari peternakan besar dalam jumlah besar. Akibatnya, suplai ayam ke pedagang kecil terganggu, harga ayam naik, tapi pendapatan UMKM jalan di tempat.
  • Katering sekolah kecil terpukul: Banyak katering rumahan yang dulu hidup dari pesanan makan siang anak sekolah sekarang kehilangan pasar. Mereka bukan malas, tapi pasarnya "diambil" secara sistemik.
  • Kualitas makanan & pemborosan: Di lapangan, banyak makanan MBG yang kualitasnya "asal-asalan" dan tidak sesuai selera anak. Hasilnya? Makanan dibuang. Mubazir itu menyakitkan, apalagi di tengah ekonomi yang sedang berat.
  • Rahasia Umum Anggaran: Di atas kertas mungkin Rp15.000 per porsi, tapi di piring sering terasa jauh di bawah itu. Ada selisih yang menguap entah ke mana.

Dimana dan Kapan Kebijakan Ini Berlaku? ("Where" & "When") 📍

Program ini direncanakan berjalan secara nasional. Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang final dan seragam dari pemerintah pusat soal pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan 2026. Belum ada surat keputusan nasional atau petunjuk teknis (juknis) final yang menyatakan apakah MBG diliburkan, tetap berjalan, atau diubah mekanismenya.

Beberapa pemerintah daerah sempat menyampaikan wacana untuk mengganti paket makanan menjadi bahan pokok yang bisa dibawa pulang, atau menyesuaikan jam pembagiannya. Tapi ingat, ini masih wacana! Biasanya kebijakan resmi akan diumumkan lewat Kemensos, Kemenko PMK, atau Kementerian Pendidikan. Jadi, buat kalian yang sudah siap-siap bawa rantang ke sekolah, sabar dulu ya!

Bagaimana Seharusnya? ("How" - Sebuah Refleksi) 💡

Menurut kacamata aku sebagai warga biasa, akan jauh lebih maslahah jika desain program ini diubah, terutama saat Ramadan. MBG harusnya disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar. Kalau sekolah libur, ya MBG libur. Kalau bulan puasa, ya mari kita hormati esensi puasa itu sendiri.

Alih-alih membagikan makanan matang di siang hari yang berisiko merusak latihan puasa anak-anak, kenapa tidak dialokasikan untuk pemberdayaan supplier lokal? Bayangkan jika:

Anak-anak tetap makan bergizi saat buka/sahur, UMKM tetap hidup, dan ekonomi lokal benar-benar bergerak. Aku tidak menolak programnya, aku cuma bertanya: kenapa niat baik tidak disertai desain yang adil untuk pelaku kecil? UMKM sering disebut tulang punggung negara, tapi di lapangan, jangan sampai kami hanya jadi penonton yang bersorak sambil menahan lapar.

"Datanglah langsung ke kantor kerja Presiden Prabowo, lalu bisikkan harapan itu pelan-pelan ke kuping Beliau. Siapa tahu ada ruang kecil untuk mendengar suara rakyat yang dibungkus doa, dan sedikit komedi. Okay...?! 😀"

Kesimpulan: Gizi Penting, Etika Juga Penting 🍛

Sebagai penutup, kebijakan MBG di bulan Ramadan 2026 ini adalah ujian bagi pemerintah untuk menunjukkan seberapa peka mereka terhadap kearifan lokal dan kondisi riil ekonomi mikro. Jangan sampai ambisi memenuhi angka nutrisi justru mengabaikan nilai-nilai pendidikan karakter (puasa) dan mematikan usaha rakyat kecil yang sudah kembang kempis.

Kita semua ingin anak-anak Indonesia sehat dan cerdas. Tapi kita juga ingin orang tua mereka, para pedagang ayam di pasar, dan pemilik katering rumahan, juga bisa tersenyum saat lebaran nanti karena dagangan mereka laku, bukan malah merugi karena kalah saing dengan program negara sendiri.

Semoga refleksi ini sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memperbaiki. Karena sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang gizinya tercukupi, tapi keadilannya juga terpenuhi. Tabik!