Sekolahan Dipaksa Mengikuti Ilusi Diplomasi Kekuasaan

Hampir habis rasanya kata-kata sopan untuk menanggapi kebijakan pimpinan negeri ini. Mau dikritik keras, beliau adalah Kepala Negara. Mau ditertawakan, beliau adalah seorang Presiden. Namun, ada-ada saja isi kepala pimpinan kita, yang belakangan instruksinya terkesan sangat tergesa-gesa dan seperti sedang memaksakan selera Paris.

Ilustrasi kebijakan kurikulum dan diplomasi presiden

Publik tentu masih ingat kejadian pada Oktober tahun lalu. Saat bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Istana Negara, beliau dengan penuh semangat meminta sekolah-sekolah di Indonesia untuk mulai belajar Bahasa Portugis.

Kemarin, sebuah pemandangan serupa terulang kembali. Di hadapan Emmanuel Macron, Presiden kembali memberikan instruksi agar Bahasa Prancis diperluas pengajarannya di tingkat sekolah dan perguruan tinggi. Dalih yang digunakan tentu saja klasik: demi memperkuat kerja sama pendidikan Indonesia-Prancis. Sungguh luar biasa, urusan diplomasi luar negeri kini seolah langsung dibebankan ke dalam ruang kelas kita.

Diplomasi Spontan Bukan Konten Semalam 🇫🇷

Banyak pihak bertanya-tanya, segitu cintanya kah beliau terhadap Paris? Ada kenangan apa sebenarnya di sana, Pak? Masalah utamanya bukan sekadar soal selera pribadi, melainkan bagaimana gagasan itu dilempar begitu saja. Semua gagasan itu muncul spontan di podium, seolah-olah sekolah itu ibarat mesin yang jika dipencet tombolnya, besok seluruh murid bisa langsung fasih mengucapkan "bonjour" dan "obrigado". Padahal, kita semua tahu bahwa urusan pendidikan itu bukanlah sekadar konten TikTok yang bisa selesai dipoles dalam satu malam.

Menteri Pendidikan pun kemungkinan besar ikut garuk-garuk kepala mendengar instruksi ini. Bayangkan saja, regulasi penguatan Bahasa Inggris saja baru dirancang agar efektif secara bertahap mulai tahun ajaran 2027/2028 mendatang. Itu pun dengan kenyataan pahit bahwa masih sangat banyak sekolah di daerah yang kekurangan guru dan penutur yang memadai.

Dampak kurikulum pendidikan bagi guru dan orang tua

Urusan Bahasa Inggris saja kita masih ngos-ngosan, ini malah disuruh melompat untuk menguasai Bahasa Portugis dan Prancis sekaligus. Lucunya lagi, bahasa-bahasa yang selama ini memang terbukti sangat dibutuhkan oleh industri dan diminati banyak siswa—seperti Mandarin, Jepang, Korea, atau Arab—justru masih sangat kekurangan tenaga pengajar yang kompeten.

Belum lagi, anak-anak di daerah juga diwajibkan untuk melestarikan dan belajar muatan lokal bahasa daerah masing-masing. Anak Sunda belajar Bahasa Sunda, anak Jawa belajar Bahasa Jawa, anak Batak belajar Bahasa Batak, dan seterusnya. Jadi, pertanyaan mendasarnya adalah: sebenarnya murid di Indonesia ini mau disiapkan untuk menjadi pelajar yang kompeten atau malah dijadikan diplomat keliling?

Beban Ganda Kurikulum di Pundak Ibu 👩👧👦

Satu hal krusial yang perlu Pak Presiden dan Dek Teddy ketahui, seluruh pelajaran yang diserap oleh anak-anak itu ujung tombaknya ada pada para Ibu. Waktu belajar tidak cukup hanya di sekolah. Saat anak saya belajar Bahasa Mandarin, ibunya mau tidak mau juga harus ikut belajar. Karena fungsi seorang ibu di rumah bukan cuma sebagai tukang masak atau tukang antar-jemput. Ibu itu merangkap sebagai asisten guru, tukang simpan hafalan, tempat bertanya, sekaligus korban dari kurikulum yang terus-menerus berubah tanpa arah yang jelas.

Nah, sekarang coba kita bayangkan situasinya. Anak-anak dipaksa belajar English, Portugis, Prancis, ditambah lagi dengan bahasa daerah. Apakah orang tuanya harus ikut mendaftar les bahasa juga sekalian? Sebagai orang tua, saya rasanya ingin angkat bendera putih saja. Belajar Bahasa Arab yang dulu diajarkan sejak kecil saja banyak yang sudah lupa, apalagi ditambah instruksi belajar bahasa-bahasa Eropa secara mendadak.

Realita Lapangan vs Panggung Internasional 🎭

Inilah pentingnya seorang pemimpin untuk sesekali turun langsung melihat kenyataan pahit di sekolah-sekolah kita. Jangan cuma asyik menikmati tepuk tangan diplomasi yang megah di depan sorot kamera. Pendidikan itu sama sekali bukan panggung untuk gagah-gagahan internasional. Jika salah memaksakan kurikulum, maka yang akan menjadi korbannya adalah anak-anak kita sendiri.

Anak bukan menjadi pintar, tapi justru stres. Guru-guru di sekolah bukan menjadi lebih kreatif, melainkan kelelahan mengurus administrasi dan instruksi dadakan. Sementara itu, para orang tua bukan merasa bangga, melainkan terus diselimuti kepanikan setiap kali membuka notifikasi dari grup WhatsApp sekolah.

Jadi, mohon maaf Pak Presiden, mungkin untuk sementara waktu biarkan saja Dek Teddy dulu yang fokus belajar Bahasa Portugis dan Prancis. Setidaknya biar makin romantis saat menemani traveling ke Paris di kesempatan berikutnya.

Wallahu A'alam.



Penulis: Nury Sybli
Latar Belakang: Alumni UIN Jakarta
Tanggal Publikasi: 31 Mei 2026
Referensi Utama: Kemarin Bahasa Portugis, Kini Prancis, Sekolah Ketambahan Beban Ikuti Arah Diplomasi (Kompas.com)
Kategori & Tag: #prancis #bahasaprancis #bahasaportugis #evaluasikebijakan #instruksibahasa #anakindonesia #diplomasikekuasaan #indonesia #catatan #KritikSosial