Opini & Politik Global

Menagih "Hujjah" di Tengah Badut Diplomasi: Kenapa Kita Jadi Makmum Trump?

4 Februari 2026 โ€ข Ditulis dengan keresahan oleh **Layar Kosong**
Foto para pemimpin dan ormas dalam pertemuan kontroversial
Bapak-bapak sekalian yang terlihat dalam foto itu, rakyat menunggu penjelasan kalian.

Bapak-bapak sekalian yang terlihat gagah (atau setidaknya merasa gagah) dalam foto di atas,

Mari kita duduk sebentar dan berbicara menggunakan akal sehat. Coba biasakan berargumentasi. Dalam tradisi intelektual Islam, agama yang kalian jual namanya di spanduk-spanduk ormas, ada yang namanya **hujjah**. Paparkan hujjah kalian. Rakyat ingin mendengarnya, bukan sekadar melihat kalian mengangguk-angguk di depan kekuasaan.

๐Ÿ˜ก Hilang Respect: Badut-Badut Berpeci

Saya hilang respect dengan tindakan dan sikap oknum-oknum itu. Petinggi Ormas Islam seakan sudah tidak waras, rela jadi badut dan dihipnotis oleh angan-angan kosong. Mari kita lihat narasi ini:

1. Ngebet Padahal Negara Lain Masih Bisa Mikir

Inggris, Kanada, Jerman, Rusia, China, India, negara-negara besar itu saja masih berpikir seribu kali untuk memenuhi undangan Trump agar masuk dalam peserta Dewan Perdamaian tersebut. Lha kok Indonesia malah *ngebet* mau ikut? Kan bisa ngomong: "Akan kami pertimbangkan dulu." Tidak punya harga diri diplomasi sama sekali.

2. Anggaran 17 Triliun untuk Tiket Masuk?!

Nyetor duit tidak kecil, yaitu **17 triliun Rupiah** hanya untuk diakui bagian dari *circle* Trump dan Israel. Menurutku, dengan konteks Indonesia butuh duit untuk urusan dalam negeri yang jauh lebih mendesak (BPJS defisit, sekolah rusak, stunting, bencana), ungkapanku cuma satu: **pinternya nggak ketulungan.**

3. Palestina Tidak Diajak

Kalau urusan Dewan Perdamaian ini untuk menangani Palestina, mengapa representasi otoritas di Gaza tidak menjadi inisiator utama? Seolah dewan ini dianggap mengurusi "tanah kavlingan" milik Trump dan Israel.

4. Mental "Pebisnis Gila"

Petinggi ormas-ormas ini pintar karena mengatakan: *"Bila peran Indonesia tidak seperti yang diharapkan, bisa abstain atau mundur."*

Astaga... Logika macam apa ini? Ini menunjukkan dasar logika mereka memahami inisiatif Trump ini benar-benar penuh dihantui keraguan, tapi memaksakan diri. Ini seperti orang mau beli mobil dengan harga mahal, lalu bilang: "Kalau nanti ternyata mobilnya gampang rusak, saya abstain ya..." Ya nggak apa-apa bagi si penjual mobil, yang penting duitmu sudah masuk ke rekeningnya! Duit 17 Triliun itu hangus, Pak!

5. Membeli pada Penjual Rusak Moral

Harusnya menyadari prinsip membeli sehari-hari. Manusia akan memilih membeli pada penjual yang jujur. Sekarang lihat siapa penjual "perdamaian" ini: **Donald Trump**.

Orang semacam ini dituruti dan diberi uang 17 triliun? Astaga... Mengapa akal sehat tidak digunakan oleh mereka?

Beri rakyat alasan yang masuk di akal, kenapa Indonesia perlu ikut jadi makmum Donald Trump? Kenapa negara yang konstitusinya anti-penjajahan ini perlu mengikuti Amerika Serikat, yang selama ini jelas-jelas merupakan pelindung utama (bahkan penyandang dana) segala bentuk pelanggaran HAM berat yang dilakukan Israel?

๐Ÿคก Ilusi Perdamaian dan Pembebekan Prabowo

Tahukah Anda bahwa yang disebut โ€œrencana perdamaianโ€ oleh Trump itu hanyalah bungkus cantik untuk tindakan mematikan segala bentuk perlawanan dari Gaza? Itu bukan perdamaian, itu adalah penaklukan. Itu sekadar menjamin keamanan Israel agar tidur nyenyak setelah merampas tanah orang.

Dan sadarkah Anda bahwa Prabowo itu kini terlihat tak lebih dari sekadar pembebek Donald Trump? Dia bilang dengan entengnya:

"Tidak ada perdamaian tanpa jaminan keamanan untuk Israel."

Astaga. Sepanjang sejarah republik ini berdiri, baru kali ini ada pemimpin Indonesia yang berbicara dengan nada "menghamba" seperti itu. Sadarkah Anda apa masalahnya? Kunci perdamaian Palestina adalah **Israel mematuhi segenap aturan internasional dan hak-hak orang Palestina**. Titik. Bukan memanjakan penjajah dengan jaminan keamanan ekstra.

Realitas di lapangan sangat brutal:
1. Bagi mereka, yang penting Israel aman, wilayah meluas. Soal Palestina? Bodo amat.
2. Israel sekarang tidak lagi menginginkan *2 state solution*.
3. Orang-orang Palestina sama sekali tidak dilibatkan dalam skema ini. Mereka nanti akan jadi penonton atas tindakan orang-orang asing di negeri mereka sendiri.

Coba jelaskan kepada rakyat, kenapa semua itu bisa Anda terima? Beri hujjah! Jangan cuma menegaskan hasil. Kalau cuma itu, mungkin rakyat akan menilai Anda secara sederhana: **bahwa Anda adalah penjilat sepatu Prabowo, dan Prabowo adalah penjilat agenda Trump.**


๐Ÿ•Œ Ormas Islam: Raksasa yang Sedang Tidur (Atau Pura-pura Tidur?)

Padahal di Indonesia memiliki banyak sekali Ormas Islam. Mereka adalah basis massa terbesar. Ke mana suara mereka?

Peta Kekuatan Ormas Kita

Dan masih banyak lagi....

Daftar ini mencakup jutaan manusia. Totalnya bisa ratusan organisasi. Tapi apa yang terjadi? Berita beredar luas, tiba-tiba saja ada "segerombolan ormas berbasis Islam" mendatangi istana untuk urusan pelancaran legitimasi pemerintah Indonesia agar diterima sebagai peserta Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Trump dan Israel.

๐Ÿ—๏ธ Motif Asli: Proyek Properti Gaza

Kalo Indonesia bergabung dengan BoP (Board of Peace), maka Indonesia hanya akan menjadi alat legitimasi dari **mega proyek konstruksi properti di Gaza**.

Ingat, Trump ini pebisnis properti. Tentu saja dia punya banyak kolega dalam bisnis tersebut. Dengan dalih perdamaian dan membangun kembali Gaza, Trump memiliki ide untuk "membangun kembali" (baca: menguasai) Gaza. Maket digital sudah dibuat, skema pembiayaan sudah dirancang.

Yang dia butuhkan adalah legitimasi dari dunia internasional. Kalau proyek ini diajukan ke PBB, belum tentu lolos. Makanya dia bikin badan sendiri (BoP) yang bisa dia setir, bahkan dia veto sendiri karena dia ketuanya.

Analisis 5W + 1H: Kebijakan Tanpa Hujjah

Biar yang baca nggak pusing, kita ringkas kegilaan ini:

๐Ÿ“š Belajar dari Sejarah: Rekonstruksi atau Okupasi?

Ada yang berdalih pakai teori rekonstruksi kota pascaperang. "Wah, partisipasi warga itu nanti saja, yang penting bangun dulu kayak Jerman atau Jepang dulu."

Benar, pengalaman Jerman (Frankfurt, Berlin) dan Jepang (Tokyo, Hiroshima) pasca 1945 memang *top-down* di bawah kendali Sekutu/AS. Seoul pasca Perang Korea juga begitu. Bosnis juga begitu.

**TAPI, ada perbedaan fundamental:**

Di Jerman dan Jepang, tujuannya adalah memulihkan negara tersebut agar bisa berdiri sendiri dan menjadi sekutu yang kuat secara ekonomi. Di Gaza? Trump dan Israel tidak punya niat membuat Palestina kuat. Motifnya adalah aneksasi dan bisnis.

Persoalan utamanya bukan *top-down* atau tidak. Melainkan **untuk kepentingan siapa** pendekatan itu dijalankan? Apakah ini jembatan menuju Palestina merdeka, atau jembatan menuju Gaza sebagai resor wisata Israel?

Kesimpulan Akhir

Jangan ikut mendukung ormas-ormas tersebut dalam urusan ini. Legitimasi kepemimpinan mereka perlu dipertanyakan. Ke mana suara orang-orang yang dulu lantang memboikot produk Israel?

Apakah para pemboikot itu berani mendemo para ulama mereka sendiri? Atau keberanian itu hanya muncul saat melawan kasir minimarket? Para ulama justru mendukung Donald Trump, pelindung Israel.