9 menit baca Sosial • Ekonomi Gig • Algoritma Terverifikasi E-E-A-T

🛵 Diam yang Melelahkan: Potret Kerja Rentan Pengemudi Ojek Online

Pernahkah Anda memperhatikan pengemudi ojek online yang sedang menanti penumpang di pinggir jalan, pelataran stasiun, atau warung kopi? Mereka bisa duduk berjam-jam di atas jok sepeda motor. Matanya sesekali melirik dan fokus menatap layar ponsel yang hanya menyala sebentar.

Sekilas, mereka terlihat sedang bersantai. Tubuh mereka tidak bergerak ke mana-mana, menyerupai orang yang sedang menghabiskan waktu luang. Namun, sadarkah Anda bahwa mereka sesungguhnya sama sekali tidak sedang beristirahat?

Pengalaman ini tidak sekadar aku amati dari jauh, tetapi pernah aku jalani sendiri. Aku merasakan langsung bagaimana tubuh yang seakan-akan beristirahat sebenarnya sedang menanti bunyi aplikasi – penanda *orderan * (dan pendapatan) – yang tak kunjung datang.

Pernah suatu hari, aku berbincang dengan rekan sesama pengemudi bernama Paijo. Matanya terus menatap layar ponsel yang redup sembari mengeluhkan betapa sepinya jalanan. Bayangkan, duduk menanti dari pagi buta hingga sore menjelang, ia baru mengantongi tiga pesanan.

Waktu menunggu pesanan yang menyiksa seperti yang dialami Paijo dan pernah aku rasakan sendiri sesungguhnya adalah bagian dari kerja keras yang sering kali dianggap waktu rehat. Namun, diamnya tubuh pengemudi bukanlah sebuah waktu bebas, melainkan kondisi siaga yang penuh dengan ketegangan.

Selama ini, narasi besar mengenai ekonomi gig—yang kerap dijelaskan oleh sosiolog Jamie Woodcock dan Mark Graham sebagai sistem kerja kontrak lepas berbasis platform digital—khususnya pada layanan transportasi online, selalu menggaungkan janji manis tentang “fleksibilitas”. Narasi ini secara masif direproduksi oleh perusahaan aplikator itu sendiri, seperti Gojek atau Grab, melalui jargon “kemitraan” andalan mereka. Lewat kampanye tersebut, ekonomi gig digambarkan sebagai inovasi bisnis yang memberikan kebebasan kepada buruh untuk mengatur waktu secara mandiri, seolah-olah buruh adalah “bos” bagi dirinya sendiri.

Namun, di lapangan, realitasnya tidak seindah itu. Kebebasan ini sesungguhnya dibarengi oleh bentuk kontrol baru yang jauh lebih halus dan tidak kasatmata. buruh tidak lagi diikat oleh struktur jam kerja yang kaku, melainkan diikat oleh logika algoritma.

**Belenggu Algoritma dan Kerja Tak Dibayar (*Unpaid Labor*)**

Secara mendasar, merujuk pada sosiolog teknologi Tarleton Gillespie, algoritma adalah serangkaian instruksi atau prosedur matematis yang ditanamkan ke dalam sistem untuk mengeksekusi perintah dan mengambil keputusan secara otomatis berdasarkan data. Dalam komputasi sehari-hari, algoritma mungkin hanya alat bantu teknis. Namun, ketika serangkaian kode ini diterapkan sebagai mesin penggerak dalam ekonomi *gig*, fungsinya berubah drastis dari sekadar alat bantu menjadi sebuah instrumen kekuasaan.

Peneliti teknologi Alex Rosenblat, yang secara khusus mengkaji fenomena ekonomi platform, menyoroti realitas ini. Ia menemukan bahwa algoritma aplikasi tidak sekadar mendistribusikan pesanan kepada mereka yang disebut “mitra”. Sistem cerdas ini bertindak layaknya manajer digital yang mengatur ritme kerja, tingkat visibilitas, hingga peluang penghasilan secara sangat ketat.

Akibatnya, pengemudi dituntut untuk senantiasa bersiaga setiap saat. Batas antara waktu bekerja dan waktu tidak bekerja menjadi sangat kabur. Waktu yang tampak kosong itu sejatinya dipenuhi antisipasi dan keharusan menjaga akun tetap aktif.

Fakta di lapangan mengonfirmasi betapa melelahkannya tuntutan kesiagaan ini. Berdasarkan riset *Institute for Demographic and Poverty Studies* (IDEAS) pada tahun 2023, sebanyak 68,9 persen pengemudi ojek online di Jabodetabek bekerja antara 9 hingga 16 jam per hari—jauh melampaui batas jam kerja normal. Dari belasan jam yang menguras energi tersebut, porsi waktu yang sangat dominan justru dihabiskan dalam status “menunggu pesanan” di jalanan.

**‘Istirahat’ yang Menguras Tenaga**

Kita sering mendengar anjuran kesehatan mengenai bahaya gaya hidup sedentari, yakni inaktivitas fisik karena terlalu lama duduk. Biasanya, kondisi ini selalu diidentikkan dengan buruh kantoran yang minim gerak.

Namun bagi pengemudi ojek online, makna sedentari ini sangat berbeda. Tubuh yang tidak bergerak ini bukanlah sebuah pilihan sadar, apalagi akibat rasa malas. Ini adalah bentuk inaktivitas yang dipaksakan oleh tuntutan sistem algoritmik.

Mereka bertahan berjam-jam di satu titik demi mengamankan posisi di dalam peta algoritma aplikasi. Jika mereka berpindah tempat, atau sekadar melangkah untuk membeli minum, risikonya sangat nyata: kehilangan pesanan yang menjadi penentu penghasilan hari itu.

Tubuh mereka memang diam tidak bergerak, tetapi pikirannya terus berpacu. Terdapat beban kerja kognitif dan emosional yang intens di sana, meminjam rumusan sosiolog Arlie Hochschild tentang “kerja emosional” (*emotional labor*), ini adalah upaya tak kasat mata untuk menekan stres dan mengelola perasaan demi memenuhi tuntutan sistem pekerjaan. Di tengah kecemasan emosional tersebut, mereka juga harus terus memeras kerja kognitif otak: menunggu dengan penuh kewaspadaan, menghitung kemungkinan titik keramaian, hingga merespons ketidakpastian pesanan.

**Kerja Rentan**

Untuk menjelaskan fenomena ini, kita dapat meminjam lensa sosiologi melalui konsep *prekaritas* (kerentanan). Merujuk pada rumusan sosiolog Guy Standing, prekaritas adalah situasi di mana buruh terjerumus ke dalam kelas sosial baru yang hidup dalam kondisi kerentanan tinggi, serba tidak pasti, dan sepenuhnya tercerabut dari jaring pengaman sosial maupun perlindungan kerja yang memadai.

Jika kita melihat sejarah transformasi industri masa lalu, eksploitasi buruh biasanya terjadi melalui pengawasan fisik yang ketat dan gerak repetitif di dalam tembok pabrik. Namun, di era digital ini, polanya bergeser. Bentuk eksploitasi dalam dunia kerja kontemporer tidak lagi selalu hadir dalam wujud kerja fisik yang memeras keringat atau mandor yang berkeliling membawa catatan pengawasan.

Peneliti seperti Alessandro Gandini menyoroti bahwa buruh dalam ekonomi platform justru dieksploitasi melalui pembatasan mobilitas tubuh. Mereka tidak dipaksa untuk terus bergerak, tetapi justru dituntut untuk tidak bergerak agar senantiasa terkoneksi dengan sistem.

Tubuh para pengemudi ini perlahan berubah menjadi perpanjangan dari sistem digital itu sendiri. Mereka terlihat mandiri secara kasatmata, padahal nasib dan penghasilannya sangat bergantung pada algoritma yang cara kerjanya tidak pernah benar-benar transparan.

**Kerentanan yang Sengaja Diabaikan**

Masalah utamanya, waktu tunggu panjang yang sesungguhnya sangat menguras fisik dan mental ini tidak pernah secara resmi diakui sebagai beban kerja. Perusahaan aplikasi secara sengaja mengaburkan status buruh untuk menghindari kewajiban memberikan jaminan kesehatan dan kepastian upah.

Negara pun belum sepenuhnya hadir untuk mengakui bahwa waktu siaga ini layak dilindungi. Di sisi lain, perusahaan teknologi terus menikmati efisiensi dari sistem ini tanpa harus menanggung biaya kelelahan jangka panjang para “mitranya”.

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna kerja di lanskap sosiologi masyarakat Indonesia era digital ini. Kesehatan kerja tidak melulu sebatas risiko kecelakaan lalu lintas atau beban angkat yang berat. Duduk diam berjam-jam sembari menanggung stres kecemasan juga merupakan risiko nyata yang membutuhkan intervensi.

Empati sederhana dari kita sebagai konsumen, seperti bersabar menanti dan tidak mudah membatalkan pesanan, memang berarti. Namun, solusi sejatinya tidak bisa hanya bersandar pada kebaikan hati individu.

Negara dan perusahaan platform-lah yang harus berhenti menutup mata atas kerentanan ini. Mereka harus mulai mendefinisikan ulang waktu tunggu di pinggir jalan ini sebagai waktu kerja riil yang berhak atas kompensasi dan perlindungan yang layak.

**📚 Daftar Pustaka**

Gandini, A. (2019). Labour process theory and the gig economy. *Human Relations*, 72(6), 1039–1056.

Gillespie, T. (2014). The relevance of algorithms. Dalam T. Gillespie, P. J. Boczkowski, & K. A. Foot (Ed.), *Media technologies: Essays on communication, materiality, and society* (hlm. 167–194). MIT Press.

Hochschild, A. R. (1983). *The managed heart: Commercialization of human feeling*. University of California Press.

Prassl, J. (2018). *Humans as a Service: The Promise and Perils of Work in the Gig Economy*. Oxford University Press.

Ravenelle, A. J. (2019). *Hustle and Gig: Struggling and Surviving in the Sharing Economy*. University of California Press.

Rosenblat, A., & Stark, L. (2016). Algorithmic labor and information asymmetries: A case study of Uber’s drivers. *International Journal of Communication*, 10, 3758–3784.

Standing, G. (2011). *The precariat: The new dangerous class*. Bloomsbury Academic.

Vallas, S., & Schor, J. B. (2020). What do platforms do? Understanding the gig economy. *Annual Review of Sociology*, 46, 273–294.

Wood, A. J., Graham, M., Lehdonvirta, V., & Hjorth, I. (2019). Good gig, bad gig: Autonomy and algorithmic control in the global gig economy. *Work, Employment and Society*, 33(1), 56–75.