Saya masih ingat obrolan malam itu di grup Kajian Sholihah. Banyak teman yang bertanya, “Bang, boleh tidak sih kita mendoakan penguasa zalim supaya cepat celaka? Soalnya saya lihat berita Gaza, hati rasanya terbakar.” Pertanyaan itu menggelayut. Saya sendiri sering galau: di satu sisi kita diajari sabar dan mendoakan hidayah, tapi di sisi lain ada doa Nabi yang tegas meminta kesulitan bagi pemimpin yang menyusahkan rakyat. Nah, melalui artikel ini saya mencoba merangkai jawabannya dengan santai tapi tidak asal. Pakai pendekatan 5W+1D (What, Why, Who, When, Where, How) biar jelas. Yuk, kita bedah pelan-pelan.

Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allahumma man waliya min amri ummati syai’an fa syaqqa ‘alaihim fasysyuq ‘alaih, wa man waliya min amri ummati syai’an fa rafiqa bihim farfiq bih” — “Ya Allah, siapa saja yang memegang urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia. Dan siapa yang memegang urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lembut.” (HR Muslim no. 1828). Saya kaget waktu pertama baca hadis ini, ternyata Rasul sendiri meminta keburukan bagi pemimpin zalim. Ini bukan sekadar umpatan, tapi doa yang diajarkan langsung dari Baginda.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa doa ini merupakan bentuk keadilan Allah. Penguasa yang menyakiti rakyat layak mendapat balasan setimpal. Namun ulama juga mengingatkan, doa ini bukan untuk sembarangan diucapkan dengan nafsu pribadi, tapi ketika kita benar-benar merasakan dampak kezaliman. Saya jadi paham, konteksnya adalah perlindungan terhadap rakyat kecil.
Pemimpin dalam Islam adalah pelayan rakyat, bukan penguasa absolut. Jika ia menyimpang, maka doa orang terzalimi adalah senjata. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Saya teringat kata-kata Syeikh Ibnu Utsaimin: “Doa untuk kehancuran penguasa zalim diperbolehkan jika itu untuk kemaslahatan umum, bukan sekadar dendam.”
Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama besar abad kedua, pernah ditanya, “Seandainya engkau punya doa mustajab, apa yang akan engkau panjatkan?” Ia menjawab, “Untuk penguasa.” Karena kebaikan penguasa akan meluas ke seluruh negeri. Saya merenung, ini menunjukkan cakrawala berpikir yang luas — bukan hanya keselamatan diri, tapi keberkahan umum.
Di sisi lain, Hasan Al-Bashri yang sangat wara’ pernah melantunkan doa keras: “Ya Allah, hancurkanlah Hajjaj bin Yusuf, penindas itu.” Tak lama setelah itu, Hajjaj mati dalam keadaan mengenaskan. Saya bergidik, betapa doa seorang saleh bisa menggetarkan singgasana. Ini jadi bukti bahwa dalam kondisi ekstrem, doa kebinasaan diperbolehkan.
Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 148: “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi.” Ayat ini sering jadi sandaran. Artinya, orang yang dizalimi punya dispensasi untuk mengungkapkan keluh kesah, termasuk dalam bentuk doa. Namun saya belajar dari tafsir Al-Qurthubi, dispensasi ini tidak boleh digunakan untuk mencaci atau memfitnah, cukup aduan kepada Allah.
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan, “Mendoakan kejelekan bagi orang zalim hukumnya boleh, bahkan dianjurkan jika kemudharatannya besar.” Beliau merujuk pada hadis di atas dan kisah salaf. Saya pribadi merasa lebih tenang karena ada landasan kuat, tapi tetap waspada jangan sampai doa itu lahir dari hawa nafsu.
Jadi, meski hati panas, kita harus menjaga lisan. Jangan sampai kita jadi zalim baru karena mencaci tanpa hak.
Saya sering mengingatkan diri sendiri: jangan sampai doa kita justru lebih kejam dari kezaliman yang kita lawan.
Mayoritas ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Al-Ghazali menyatakan bahwa mendoakan hidayah lebih utama, karena itulah yang paling dicintai Allah — seorang hamba kembali ke jalan benar. Namun jika kezaliman sudah merajalela dan menutup pintu kebaikan, doa kebinasaan menjadi opsi. Saya condong pada pandangan Imam Al-Haramain: “Doa kebinasaan untuk penguasa zalim ibarat pisau bedah yang terpaksa digunakan demi menyelamatkan tubuh umat.”
Doa yang tulus membersihkan hati dari rasa frustrasi. Sau dara kita mengadukan kezaliman kepada Allah, kita tidak merasa tak berdaya. Saya merasakan sendiri, setelah berdoa di sepertiga malam untuk saudara-saudara di Palestina, hati lebih lega. Doa juga bisa menjadi pengingat bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah.
Di era media sosial, kita mudah terpancing untuk mengutuk penguasa secara terbuka. Tapi saya ingat nasihat guru: “Kritislah dengan adab, jangan sampai doamu berubah menjadi makian yang diumbar.” Kita bisa menyuarakan kebenaran, namun tetap menjaga persatuan umat. Jangan sampai kita justru memecah belah karena perbedaan cara menyikapi penguasa.
5W+1H Inti:
📍 Apa: Mendoakan keburukan bagi penguasa zalim.
📍 Mengapa: Karena kezaliman merusak kehidupan umat.
📍 Siapa: Orang yang dizalimi atau yang peduli pada kezaliman.
📍 Kapan: Saat kezaliman nyata dan tidak ada harapan perbaikan.
📍 Di mana: Dalam doa pribadi, bukan di forum publik.
📍 Bagaimana: Dengan adab, ikhlas, tidak melampaui batas.
Tidak, jika kita benar-benar dalam posisi dizalimi dan doa itu tidak melampaui batas. Justru itu bagian dari perlindungan Allah bagi yang lemah.
Ya, mayoritas ulama menyatakan hidayah lebih utama karena dampaknya jangka panjang dan lebih dicintai Allah. Tapi dalam kondisi darurat, doa kebinasaan bisa dipilih.
Ya, dalam hadis riwayat Muslim tentang pemimpin yang menyusahkan rakyat. Juga doa Nabi agar Musailamah Al-Kadzdzab dibinasakan.
Tidak dianjurkan. Karena itu bisa termasuk caci maki, mempermalukan di depan umum, dan bisa menimbulkan fitnah. Simpan dalam doa pribadi.
Rasa kesal belum cukup syar'i untuk mendoakan keburukan. Lebih baik doakan kebaikan atau perbaikan hati kita sendiri.
Rasulullah bersabda, “Doa orang terzalimi tidak ada penghalang antara dirinya dan Allah, meskipun ia seorang pendosa.” (HR Muslim). Jadi sangat potensial mustajab.
Jadi, BOLEHKAH BERDOA BURUK BAGI PENGUASA ZALIM? Jawaban saya: boleh dalam kondisi tertentu dengan syarat dan adab yang ketat. Namun yang paling utama adalah tetap mendoakan hidayah selama masih ada celah. Islam memberi ruang bagi yang teraniaya, tapi juga mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kebencian. Saya pribadi memilih untuk memperbanyak doa di sepertiga malam, memohon keadilan Allah, sambil tetap berusaha memperbaiki diri dan lingkungan. Semoga artikel ini bisa menjawab kegalauan teman-teman semua.