Indonesia Kehilangan Ribuan Triliun Investasi Bukan Karena Tidak Ada yang Mau Masuk, Tapi Kita Sendiri yang Mengusir Mereka

Oleh: Dr. Berlian Siagian Via: Goldy Sugiharto & Tonny Mathovani Soendjojo 27 Mei 2026 Sumber: Bennix (Wall Street, New York)

Catatan Pengantar: Untuk teman-teman yang masih mau berpikir jernih demi masa depan Indonesia, silakan luangkan waktu sejenak dan baca tulisan ini sampai selesai. Ini adalah tamparan keras bagi realitas ekonomi kita.

Seorang ekonom dan investor kawakan yang lebih akrab disapa dengan nama Bennix baru saja membagikan sebuah insight langsung dari pusat keuangan dunia, Wall Street, New York. Kabar yang ia bawa bisa dibilang menjadi tamparan paling keras yang mendarat di muka kita sebagai sebuah bangsa belakangan ini.

Menariknya, tamparan ini bukan soal naik-turunnya nilai tukar Rupiah. Bukan pula soal fluktuasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bennix justru menyoroti sesuatu yang jauh lebih fundamental dan berakar kuat di sistem kita: Indonesia kehilangan potensi investasi asing hingga ribuan triliun rupiah, bukan karena tidak ada pemodal yang melirik, melainkan karena perangai sistem kita sendiri yang aktif mengusir mereka pergi.

Ilustrasi keruwetan birokrasi dan dampak ekonomi makro di Indonesia
Ilustrasi: Potensi ekonomi raksasa yang kerap kali terganjal oleh tembok regulasi domestik.

Tiga Negara yang Mengadu (Dan Ini Sangat Memalukan)

Mari kita bedah faktanya secara transparan. Ada tiga representasi negara besar yang secara terbuka mengeluhkan betapa payahnya iklim investasi di tanah air kita, sebuah kenyataan yang sebenarnya mencoreng wajah diplomasi ekonomi kita di kancah internasional:

1. Swiss

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zender, secara blak-blakan melayangkan komplainnya ke permukaan. Saat ini, tercatat ada lebih dari 150 perusahaan asal Swiss yang sudah beroperasi di Indonesia dan mereka sebenarnya sangat berniat untuk melakukan ekspansi besar-besaran.

Mereka berencana menyuntikkan dana segar ke berbagai sektor strategis seperti industri kelapa sawit, pabrik pengolahan susu, industri keju, sektor petrokimia, hingga industri farmasi. Namun apa yang terjadi? Sampai detik ini, niat tersebut fana dan tidak bisa direalisasikan. Gara-garanya sepele namun fatal: perjanjian dagang antara Indonesia dan Uni Eropa tidak kunjung diimplementasikan dengan jelas.

"Ini adalah momen yang sangat memalukan bagi kita. Bayangkan, Duta Besar negara lain mati-matian membela pengusahanya agar bisa menanam modal di negara kita, sementara Duta Besar kita sendiri hampir tidak pernah terlihat bergerak lincah membela pengusaha lokal di luar negeri."

2. Prancis

Selanjutnya ada kisah dari Duta Besar Prancis, Muhammad Omar, yang sudah menunaikan tugasnya selama 4 tahun di Indonesia. Ia mencatat sudah ada 11 perusahaan raksasa asal Prancis yang memegang status ready alias siap meluncurkan investasinya ke tanah air.

Sayangnya, status proyek tersebut kini masih menggantung atau pending total. Alasan di balik penundaan ini hanya satu dan sangat klasik: tidak adanya kepastian regulasi hukum. Para pelaku usaha dibuat mempertimbangkan dengan sangat saksama karena kepastian aturan yang berubah secepat cuaca. Hari ini bisa jadi mereka mendapatkan fasilitas bebas pajak, besok tiba-tiba dicabut. Hari ini aturan tertulisnya A, besok pagi sudah berganti menjadi B. Di mata investor global, sistem yang tidak bisa diprediksi adalah mimpi buruk terbesar.

3. Uni Emirat Arab (UEA)

Kasus dari Timur Tengah ini bisa dibilang yang paling brutal sekaligus menyakitkan hati. Akibat ketidakpastian birokrasi kita, dana segar hampir sebesar Rp800 triliun gagal mendarat di Indonesia.

Ada satu investor kakap dari Arab yang sudah menyiapkan dana tunai senilai Rp85 triliun (setara 5 miliar dolar AS). Di waktu yang bersamaan, taipan ini juga sedang melihat peluang investasi serupa di Amerika Serikat. Karena proses pengurusan izin di Indonesia berbelit-belit dan tidak jelas kapan kelarnya, ia akhirnya kehilangan kesabaran. Investor tersebut memutuskan memindahkan seluruh dananya dan membuka pabrik di Amerika Serikat.

Kini, pabrik raksasa tersebut sudah berdiri tegak dan beroperasi penuh di Amerika. Sementara di Indonesia? Kita masih sibuk dengan status standby tanpa hasil, dan uang Rp85 triliun itu menguap begitu saja menyeberangi samudra menuju negara lain.

Keluhan yang Sama dari Dulu: Mengapa Kita Tidak Pernah Belajar?

Bennix menekankan bahwa daftar keluhan para investor asing ini tidak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Ironisnya, poin-poin keluhan ini tetap sama persis dengan topik yang kerap diperdebatkan dalam ribuan seminar nasional yang digelar oleh jajaran pemerintah kita sendiri. Masalah utamanya meliputi:

  • Aturan main dan regulasi yang berubah mendadak tanpa ada pemberitahuan awal.
  • Birokrasi yang luar biasa berbelit-belit dan berlapis.
  • Nihilnya kepastian hukum yang menjamin keberlangsungan usaha jangka panjang.
  • Praktik pungutan liar (pungli) serta premanisme yang masih merajalela di lapangan.
  • Tumpang tindih regulasi dan izin antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Saking parahnya ego sektoral, skema koordinasi kita sering kali terlihat seperti komedi formal yang berantakan. Pemerintah Pusat menggaungkan kebijakan A, lalu Gubernur di tingkat Provinsi berbelok ke arah B. Belum selesai di sana, Bupati mengeluarkan mandat C, Walikota menyilang ke opsi D, Kepala Desa menuntut poin E, hingga akhirnya pengurus RT/RW pun ikut meminta bagian F.

Jika para investor tidak mengikuti kemauan di setiap lapisan birokrasi informal ini, risikonya sangat mengerikan: gudang operasional mereka bisa didemo ormas lokal, atau bahkan dibakar massa. Ini bukan lagi urusan bisnis, ini murni masalah keamanan.

Kisah Tragis Insentif Industri Kendaraan Listrik (EV)

Contoh paling nyata dan barangkali paling gila terjadi pada sektor industri kendaraan listrik yang sedang naik daun. Ketika jenama otomotif global sekelas BYD, Chery, dan Wuling memutuskan datang ke Indonesia, mereka berniat baik memboyong ekosistem teknologi baru.

Mereka membangun pabrik fisik, membuka ribuan lapangan kerja baru untuk putra-putri daerah, serta membantu menekan angka impor BBM negara kita melalui transisi energi. Di atas kertas, semua pihak diuntungkan.

Namun plot twist-nya dimulai ketika pabrik-pabrik tersebut sudah berdiri tegak di atas tanah. Insentif keringanan pajak yang sejak awal dijanjikan manis oleh pemerintah tiba-tiba dihilangkan atau diubah secara sepihak di tengah jalan. Hari ini dibilang bebas pajak, besok tagihannya datang. Hari ini bebas PPN, besok keluar aturan wajib bayar. Menghadapi ketidakpastian sekstrem ini, pengusaha mana yang waras untuk bertahan? Itu bukan lagi kalkulasi investasi yang rasional, melainkan sebuah perjudian nasib yang konyol.

Ironi Negara Kaya yang Kalah Jauh dari Singapura

Kenyataan ini terasa kian menyayat hati jika kita menengok modal dasar yang dimiliki bangsa ini. Indonesia pada dasarnya diberkahi dengan seluruh instrumen yang diimpikan oleh investor global manapun di dunia:

  1. Cadangan komoditas nikel terbesar di dunia untuk bahan baku baterai masa depan.
  2. Lahan kelapa sawit terluas di dunia.
  3. Letak geografis yang teramat strategis diapit oleh dua samudra besar (Hindia dan Pasifik).
  4. Pasar konsumen masif dengan total lebih dari 284 juta penduduk (terbesar keempat di dunia).
  5. Rata-rata standar UMR wilayah yang masih sangat kompetitif.

Namun, dengan segudang kemewahan alam tersebut, siapakah yang memegang takhta sebagai pusat perdagangan dan finansial di Asia Tenggara? Bukan Indonesia, melainkan Singapura. Sebuah negara kota berukuran mini yang luas wilayahnya bahkan tidak lebih besar dari gabungan beberapa wilayah di Jakarta.

Singapura tidak memiliki kekayaan alam melimpah, mereka juga tidak memiliki fisik dari Selat Malaka. Namun, mereka memiliki kecerdasan untuk mengelolanya dengan benar, memberikan kepastian hukum yang mutlak, dan menyediakan birokrasi yang secepat kilat tanpa drama pungli.

Dampak Domino: Mengapa Rupiah Terus Babak Belur?

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang global yang terjadi belakangan ini bukanlah sebuah kebetulan semata atau sekadar siklus ekonomi musiman. Logikanya sangat linear: ketika pintu masuk investasi ditutup oleh keruwetan kita sendiri, otomatis aliran dana Dolar segar tidak akan mengalir masuk ke dalam negeri.

Di saat yang sama, fenomena capital outflow (larinya modal ke luar negeri) terus terjadi secara masif karena pemodal lokal pun memilih mengamankan asetnya di luar. Akibatnya, posisi Rupiah kian tertekan dan babak belur di pasar valuta asing.

Meskipun figur pemimpin seperti Prabowo sempat melontarkan kalimat santai, "Mau dolar berapa ribu kek," atau upaya menenangkan dari Gubernur Bank Indonesia yang menyatakan bahwa pergerakan nilai Rupiah masih cenderung stabil dengan volatilitas terukur di angka 5,4%, realitas objektif di lapangan tetap tidak bisa berbohong.

Duta Besar dari negara-negara sekutu ekonomi kita seperti Swiss, Prancis, hingga Uni Emirat Arab sudah menyalakan lampu kuning secara serentak. Mereka mengadu bahwa modal mereka tertahan di depan pintu gerbang negara kita. Jika dari saku Uni Emirat Arab saja kita sudah gagal menyelamatkan potensi dana Rp800 triliun, bayangkan berapa total akumulasi modal raksasa yang sudah menguap sia-sia selama bertahun-tahun akibat kelalaian kolektif ini?

Kesimpulan: Masalah Kita Adalah Ego Sistem

Kesimpulan besarnya sangat gamblang: Masalah utama bangsa Indonesia bukanlah karena kita kekurangan sumber daya alam, bukan pula karena kita miskin potensi, dan jelas bukan karena tidak ada investor global yang berniat masuk. Masalah terbesar kita adalah buruknya sistem internal yang aktif memaksa orang-orang yang berniat baik membangun negara ini akhirnya memilih untuk angkat kaki dan pergi.

Selama keruwetan birokrasi yang berlapis-lapis ini dipelihara, selama regulasi hukum bisa diubah seenak jidat tanpa perhitungan matang, dan selama praktik pungli serta premanisme ormas tidak diberantas secara radikal, maka para pemilik modal terbaik yang memegang triliunan dana segar akan selalu berpaling ke negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, atau Singapura.

Dampak akhirnya, nilai tukar Rupiah kita akan terus merosot ke titik nadir. Dan ingat, jika hal itu terjadi, jangan lagi-lagi menyalahkan faktor ketidakpastian global semata sebagai kambing hitam. Salahkan diri kita sendiri, karena kitalah yang dengan giat membangun tembok tinggi untuk mengusir aliran uang yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja baru dan membawa kesejahteraan bagi jutaan rakyat kita yang masih menganggur.

Melihat semua kekacauan struktural ini, rasanya campur aduk. Ada rasa marah yang membuncah di dalam dada, namun di saat yang sama, kita kerap merasa tidak berdaya untuk mengubahnya dari bawah. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bersama.