Semut di seberang lautan tampak
Gajah di pelupuk mata tak terlihat
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana jari-jari kita begitu lincah mengetik komentar di layar ponsel, menilai orang lain dari balik anonimitas, pepatah lama ini kembali bergema sebagai pengingat abadi. Kita diajarkan untuk lebih fokus pada introspeksi dan memperbaiki kekurangan diri sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Sering kali, kita tidak menyadari betapa banyaknya aib kita sendiri—dosa-dosa kecil yang menumpuk seperti debu di sudut hati—sementara mudah sekali melihat kekurangan orang lain, seolah mata kita dilengkapi kaca pembesar untuk dosa mereka.


Bayangkan seorang pemuda yang duduk di masjid setelah salat Jumat. Ia melihat seorang jamaah lain yang terlambat datang, pakaiannya kusut, dan langsung dalam hatinya bergumam, "Ah, orang ini pasti malas beribadah." Namun, ia lupa bahwa dirinya sendiri baru saja melewatkan salat Subuh karena terlalu larut bermain game semalam. Atau seorang ibu rumah tangga yang menggunjing tetangganya karena sering bergosip, padahal lidahnya sendiri tak pernah lepas dari cerita-cerita miring tentang saudara iparnya. Inilah realita yang sering kita alami: semut di seberang lautan tampak jelas, gajah di pelupuk mata tak terlihat sama sekali.
HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 592; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani.
Hadits ini bukan sekadar kata-kata bijak, melainkan cermin yang Allah SWT berikan melalui lisan Rasulullah SAW untuk kita renungkan setiap hari. Kotoran kecil (qadhaah) itu bisa berupa kesalahan ringan yang kita lihat pada orang lain: mungkin ia lupa membaca doa setelah adzan, atau ucapannya sedikit kasar di tengah perdebatan. Tapi kayu besar (jizl atau jid‘) di mata kita sendiri? Itu adalah dosa-dosa besar yang kita abaikan: riya’ dalam amal, hasad yang membara, atau bahkan ghibah yang kita lakukan sambil tersenyum manis.
Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali, pernah berkata dalam Ihya Ulumuddin:
"Barangsiapa yang sibuk dengan aib orang lain, maka ia telah melupakan aib dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sibuk dengan aib dirinya, maka ia akan selamat dari aib orang lain."Inilah jalan para salafush shalih. Mereka lebih suka menangis atas dosa sendiri di malam hari daripada menunjuk hidung orang lain di siang hari.
Hal ini sejalan dengan peringatan tentang ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain yang tidak disukainya, meskipun hal itu benar adanya. Rasulullah SAW bersabda: "Ghibah itu lebih buruk daripada zina." (HR. Ath-Thabrani). Mengapa? Karena zina bisa diampuni dengan taubat nasuha, tapi ghibah meninggalkan luka di hati yang sulit disembuhkan, dan sering kali pelakunya tak sadar bahwa ia sedang memakan daging saudaranya yang sudah mati.
Tips Praktis Mulai Hari Ini:
- Setiap pagi, tanyakan pada diri sendiri: "Apa aibku hari ini?"
- Ganti scroll medsos cari cela orang lain dengan buka catatan amal pribadi.
- Tutup aib saudara seperti kamu ingin Allah menutup aibmu.
- Sebelum bicara, tanya: "Apakah ini ghibah? Apakah ini bermanfaat?"
- Mulai muhasabah 5 menit sebelum tidur: apa yang baik, apa yang perlu diperbaiki.
Bayangkan jika kita semua mulai hari dengan muhasabah: "Apa aibku hari ini? Apa yang bisa aku perbaiki?" Alih-alih scroll media sosial untuk mencari cela orang lain, kita buka catatan amal kita sendiri. Tutuplah aib saudara kita seperti kita ingin aib kita ditutup oleh Allah. Karena pada hari kiamat, timbangan amal kita lah yang akan berbicara, bukan gosip yang kita sebarkan.
Mulailah dari sekarang: introspeksi, taubat, dan tutup aib dengan kasih sayang. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu melihat gajah di mata sendiri, bukan semut di lautan orang lain. Amin.