❝ Kita diberi sanjungan, tapi diam-diam digiring ke papan catur paling mematikan. ❞
Presiden Amerika Serikat ke-47 itu di hadapan Presiden Prabowo, melontarkan pujian setinggi langit: “Indonesia adalah saudara Muslim yang dipercaya Palestina. Kehadiran kalian sangat dibutuhkan.” Media-media kita ramai memberitakan ini sebagai pengakuan internasional. Tapi mari kita bentangkan peta Gaza edisi terkini yang tidak disiarkan CNN. Titik-titik merah bukanlah tenda pengungsi, melainkan calon pos penjagaan Indonesia yang dirancang Pentagon. Posisinya persis mengelilingi perbatasan Timur dan Selatan, lokasi favorit pasukan elite Israel melancarkan operasi “mow the lawn” (pembersihan berkala).
Wajah Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejatinya adalah dua wajah yang sama. Netanyahu butuh menenangkan Knesset yang lelah dengan kecaman global. Trump butuh citra “peacemaker” sebelum pemilu berikutnya. Maka mereka menciptakan solusi cerdas: meminjam seragam TNI untuk dijadikan perisai. Israel tidak harus berhadapan langsung dengan Hamas atau Jihad Islam; cukup menembak dari balik prajurit kita, dan balasan roket akan salah sasaran. Ini siasat “divide et impera” versi abad 21.
Rencana itu mulai dimatangkan sejak pertemuan bilateral di Oval Office, Februari lalu. Peta digital yang diperlihatkan kepada delegasi Indonesia tidak mencantumkan buffer zone untuk warga sipil. Sebaliknya, lima koridor kemanusiaan yang diusulkan justru beririsan dengan sumbu serangan militer Israel. Dalam dokumen yang bocor ke media Timur Tengah, area sekitar Rafah dan Beit Hanoun akan dijaga personel bersenjata lengkap dari negara sahabat. Saat itulah perangkap dipasang: jika roket Qassam meluncur, lintasannya akan melewati pos Indonesia.
Karena dilema yang diciptakan sangat keji. Pertama, faksi perlawanan Palestina tidak mungkin menembaki tentara Muslim, apalagi dari Indonesia yang puluhan tahun konsisten mendukung kemerdekaan mereka. Itu bunuh diri diplomatik. Kedua, jika mereka diam, Israel leluasa menindak tegas warga Gaza dari balik tameng hidup Garuda. Dunia akan dibuai narasi: “Lihat, penjaga perdamaian Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa, Hamas-lah yang selalu memprovokasi.” Reputasi Indonesia sebagai Negara Netral pun hancur. Kita akan dicap antek AS yang lemah.
🇮🇩 Jebakan itu sempurna: menembak = membunuh saudara sendiri.
Tidak menembak = membiarkan pembantaian. Pion memang tidak punya suara.
Bayangkan skenario ini: pukul 02.00 dini hari, unit Duvdevan Israel menyusup ke lingkungan Al-Shuja'iyya. Mereka mengenakan pakaian sipil, menembaki rumah sakit darurat. Perlawanan Palestina bersiap meluncurkan roket balasan. Namun di perbatasan, tepat di jalur evakuasi, terdapat pos jaga Batalyon Mekanis TNI yang baru tiba seminggu lalu. Komandan Israel tahu persis koordinatnya. Saat roket diluncurkan, ironisnya justru prajurit kita yang menjadi sasaran tembakan roket kendali, yang dikendalikan dari jarak aman oleh intelijen Zionis. Dunia melihat: “Tentara Indonesia gugur oleh roket Hamas.” Narasi global bergeser. Palestina semakin terisolasi.
Sejarah mencatat bagaimana leluhur Trump di Eropa menindak tegas penduduk asli. Kini keturunannya menyusun strategi yang sama, hanya kemasannya lebih halus: “membela hak asasi” di atas puing Gaza. Netanyahu tak berbeda. Dalam buku memoarnya, ia menyebut bangsa Arab sebagai “budaya yang tidak mengenal demokrasi”. Namun di hadapan Prabowo, ia tersenyum ramah. Mempercayai janji keduanya persis seperti mempercayai sangat tidak etis dengan Dajjal. Yang satu terang-terangan membakar, yang lain berpura-pura menjadi sahabat agar tikaman lebih terasa.
Jika rencana ini terealisasi, kita bukan hanya kehilangan prajurit terbaik. Lebih dari itu, Indonesia akan tercatat dalam sejarah sebagai negara Muslim yang digunakan untuk menindas saudaranya sendiri. Uang dan Anggaran negara yang mestinya untuk pendidikan dan kesehatan, habis untuk operasi militer di negeri orang yang bahkan tidak mengundang. Badan Intelijen Negara (BIN) seharusnya membaca skenario ini sejak awal. Bukan malah sibuk merayakan undangan makan malam di Gedung Putih.
AS punya sejarah panjang menggunakan tentara asing sebagai force multiplier. Di Irak, mereka merekrut tentara bayaran Blackwater; di Afghanistan, mereka memanfaatkan milisi lokal. Sekarang giliran Indonesia yang didekati dengan modus “operasi perdamaian”. Tapi jangan lupa, misi PBB di Lebanon (UNIFIL) saja sering dihalangi Israel. Lalu bagaimana mungkin pos TNI di Gaza justru dirancang oleh Pentagon? Ini bukan misi kemanusiaan; ini adalah perang proksi dengan seragam Indonesia.
Pertama, DPR harus membahas secara transparan detail perjanjian pertahanan dengan AS.
Kedua, Presiden Prabowo perlu menarik diri dari jebakan ini.
Ketiga, masyarakat sipil menggalang petisi agar TNI tidak dikorbankan.
Keempat, ulama dan ormas Islam bersuara lantang menolak pasukan Indonesia di Gaza.
Kelima, media massa harus kritis, bukan sekadar corong kebanggaan semu.
Kita semua paham, Palestina butuh kemerdekaan. Tapi bukan dengan cara menjadi umpan meriam. Bantuan medis, sekolah lapangan, rumah sakit darurat, itu yang Indonesia kuasai. Bukan mengirim tentara ke medan yang sudah ditandai sebagai kuburan massal. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Sungguh na’if jika kita dengan bangganya menyumbangkan uang rakyat dan nyawa anak bangsa untuk ambisi politik asing yang haus darah.
Trump dan Netanyahu tahu bahwa Indonesia punya hati besar. Hati itu mereka manfaatkan sebagai perisai. Dalam bahasa Jawa, kita di “dipundhut atine” (diambil hatinya) lalu diarak ke medan laga. Waktunya membuka mata. Katakan tidak pada pos penjagaan di zona penyangga. Katakan tidak pada perangkap diplomasi. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Karena ketika darah prajurit Garuda tumpah di Gaza karena kesalahan diplomasi politik, tak ada kata maaf dari sejarah.