Fenomena Ulama Su': Ketika Ilmu Menjadi Alat Kekuasaan
Halo pembaca pembaca. 👋 Kita sering dengar kata "Ulama" sebagai pewaris nabi, sosok yang sejuk, dan jadi kompas moral buat masyarakat. Tapi, akhir-akhir ini, ada satu istilah yang mulai sering muncul lagi ke permukaan diskusi kita: Ulama Su'. Istilah ini mungkin terdengar agak "ngeri-ngeri sedap", tapi penting sangat buat kita bahas dengan kepala dingin supaya kita tidak gampang terombang-ambing di tengah arus informasi yang makin liar.

Apa Itu Ulama Su'? (What)
Secara sederhana, Ulama Su’ adalah istilah untuk menyebut figur keagamaan yang memiliki pengetahuan agama yang mumpuni, tetapi sayangnya, mereka menyalahgunakan ilmu tersebut demi kepentingan pribadi, nafsu kekuasaan, atau mencari keuntungan sepihak dari penguasa. Di sini, ilmu yang seharusnya menjadi cahaya dan penuntun moral masyarakat, malah "disulap" menjadi alat pembenaran (legitimasi).
Bayangkan, orang yang harusnya bilang "ini salah" malah sibuk cari-cari celah di kitab suci supaya kesalahan itu terlihat benar. Itulah esensinya. Ciri utamanya bukan karena mereka kurang hafalan atau tidak jago bahasa Arab—mereka seringkali sangat pintar—tapi masalahnya ada pada orientasi yang rusak. Agama dipakai untuk menekan kritik, membungkam akal sehat, dan menukar kebenaran dengan keuntungan duniawi.
Siapa Mereka dan Kapan Ini Terjadi? (Who & When)
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno sampai era demokrasi modern, sosok "penjual dalil" ini selalu ada. Mereka muncul terutama saat terjadi gesekan antara kepentingan rakyat dan ambisi penguasa. Siapa mereka? Mereka bisa siapa saja yang memegang otoritas agama tapi lebih memilih kenyamanan fasilitas daripada suara kebenaran.
Biasanya, mereka muncul ke panggung saat penguasa butuh "stempel halal" untuk kebijakan yang tidak populer atau bahkan menindas. Saat itulah, narasi-narasi ketaatan yang buta mulai diproduksi secara masal.
Kenapa Fenomena Ini Makin Marak? (Why)
Kenapa sih orang berilmu bisa tergelincir? Jawabannya seringkali sistemik. Dalam struktur kekuasaan politik kita hari ini, relasi antara agama dan negara seringkali tidak berada pada jarak moral yang sehat. Semuanya dijalin melalui insentif, akses, dan perlindungan simbolik yang membuat harga sebuah "independensi" menjadi sangat mahal.
Ketika negara atau pihak berkuasa memberikan ruang, fasilitas mewah, dan legitimasi politik, tekanan untuk “menyesuaikan sikap” menjadi sangat kuat. Tekanan ini bukan lewat ancaman fisik yang kasar, tapi lewat mekanisme halus: undangan ke istana, posisi di dewan-dewan strategis, kucuran dana, dan eksklusivitas sosial. Akibatnya, banyak yang akhirnya memilih untuk "main aman".
Di Mana Seharusnya Posisi Ulama? (Where)
Sebenarnya, ulama tidak harus selalu menjauh dari kekuasaan. Kekuasaan itu netral, ia adalah alat untuk mengatur maslahat orang banyak. Tapi, yang wajib dijaga adalah jarak etis. Kekuasaan adalah ruang pengaruh, sementara ulama adalah penjaga nurani. Keduanya boleh bersinggungan sepanjang posisi ulama tetap independen dan kritis.
Masalah muncul bukan ketika ulama dekat dengan penguasa, melainkan ketika kedekatan itu mengubah fungsi ulama dari penasehat moral menjadi pembenar kebijakan. Jarak yang dimaksud di sini bukan soal fisik, tapi soal keberpihakan: apakah ia berpihak pada nilai keadilan atau pada kelanggengan jabatan?
Bagaimana Dampaknya Bagi Kita? (How)
Ini bagian yang paling menyedihkan. Ketika ulama sudah aktif mencari dalil untuk membenarkan kezaliman, agama berubah fungsi menjadi alat narasi sepihak. Nalar publik kita dirusak karena ketidakadilan diberi pakaian suci dan kekerasan dibungkus dengan bahasa ketaatan. Rakyat diajak menerima ketidakadilan sebagai takdir, sementara kritik dicap sebagai pembangkangan terhadap Tuhan.
Dampaknya berlipat ganda karena pembenaran religius jauh lebih efektif meredam perlawanan daripada senjata militer. Korban diminta bersabar tanpa pernah ditanya siapa yang harus bertanggung jawab. Di sinilah ulama semacam itu ikut menjadi bagian dari mesin kezaliman—bukan karena mereka bodoh, tapi karena itu adalah sebuah pilihan sadar.
Melawan Arus: Memilih Jalan Sunyi
Berpegang pada moral dan prinsip intelektual hari ini seringkali berarti memilih jalan yang sunyi. Kamu mungkin kehilangan mimbar besar, dicap ekstrem, atau disingkirkan dari arus utama. Tapi, di situlah integritas diuji. Independensi bukan sekadar niat di dalam hati, tapi keberanian melawan sistem yang secara struktural memang tidak ramah pada suara jujur.
Kita sebagai umat dan masyarakat juga punya tugas: jangan mau ditipu oleh label. Selalulah gunakan akal sehat dan hati nurani untuk membedakan mana suara yang murni ingin mencerahkan, dan mana suara yang hanya ingin menyenangkan tuan tanah. Karena pada akhirnya, ilmu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya, bukan sekadar komoditas untuk dijual di pasar kekuasaan.
Terima kasih sudah membaca esai panjang ini. Semoga kita selalu dikelilingi oleh para guru dan ulama yang tulus menjaga nurani bangsa.