3 Februari 2026 Frijal Balikpapan 12 Min Baca

Nostalgia Prajurit dan Realita Gizi: Menggugat Relevansi MBG di Era Modern

Bukan dari ruang rapat ber-AC. Bukan dari meja konsultan. Kadang saya mencoba memahami dari mana Makan Bergizi Gratis (MBG) ini lahir. Mungkin… dari ingatan lama seorang prajurit. Bayangkan Prabowo muda, bertahun-tahun hidup di medan operasi. Masuk ke desa-desa terpencil. Melihat langsung anak-anak kurus, perut kembung, mata sayu. Bukan karena malas, tapi karena negara memang belum sampai ke sana.

"Di masa itu, lapar adalah pemandangan harian. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Gizi buruk nyata. Sekolah ada, tapi anak-anak tak punya tenaga untuk belajar."
Ilustrasi Anak Sekolah dan Gizi Indonesia

Trauma sosial itu wajar jika melekat kuat. Dan sangat manusiawi bila kelaparan menjadi musuh utama dalam benaknya. Maka ketika kekuasaan akhirnya di tangan, solusi yang muncul pun solusi dari ingatan masa lalu: beri makan, selamatkan generasi. Di titik itu, MBG masuk akal. Bahkan terasa heroik.


1. Who: Siapa yang Sebenarnya Menjadi Sasaran?

Secara teori, program ini menyasar jutaan anak sekolah. Namun, jika kita melihat dari kacamata 5W+1H, kita perlu bertanya: siapa "anak-anak" yang ada di bayangan sang pengambil kebijakan? Apakah mereka anak-anak yang sama dengan yang dilihat di Timor Timur atau pedalaman Papua puluhan tahun lalu? Dunia sudah berubah, Mas. Profil kemiskinan kita hari ini sudah bergeser dari "kelaparan absolut" menjadi "ketimpangan nutrisi".

2. What: Apa Masalah Utama Bangsa Hari Ini?

Masalah bangsa tidak pernah statis. Indonesia 30–40 tahun lalu bukan Indonesia hari ini. Hari ini, kelaparan massal seperti yang dulu dilihat di pedalaman nyaris tak lagi menjadi gambaran umum. Masalah kita bukan lagi tidak makan, melainkan salah makan. Bukan kekurangan kalori, tapi kelebihan gula. Bukan perut kosong, tapi kualitas pendidikan yang timpang, guru yang belum sejahtera, sekolah yang tertinggal, dan akses ilmu yang tidak merata.

Data Lapangan: Tingkat stunting memang masih ada, namun penyebab utamanya seringkali bukan ketersediaan makanan di sekolah, melainkan sanitasi air bersih dan edukasi gizi di tingkat rumah tangga sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

3. Where: Di Mana Titik Lemah Kebijakan Ini?

Negara tidak boleh terjebak nostalgia penderitaan. Kebijakan publik tidak bisa hanya lahir dari empati personal, ia harus berdiri di atas data mutakhir dan kebutuhan aktual. Jika kita menerapkan solusi yang sama di Jakarta, Balikpapan, dan pedalaman Papua secara seragam, kita mengabaikan konteks lokalitas. Di kota besar, masalahnya adalah obesitas masa kecil akibat makanan olahan (ultra-processed food), sementara di pelosok masalahnya mungkin akses protein hewani.

4. When: Kapan Waktu yang Tepat untuk Berubah?

Jawabannya adalah: Sekarang. Jika negara terus berlari ke arah masa lalu, sementara dunia sudah melompat jauh ke depan dengan integrasi AI dalam pendidikan dan ekonomi digital, yang tertinggal bukan hanya anggaran tapi masa depan anak bangsa itu sendiri. Kita sedang berkompetisi dengan negara yang sudah membahas kedaulatan data, sementara kita masih sibuk berdebat soal menu makan siang.

5. Why: Mengapa Niat Baik Saja Tidak Cukup?

MBG mungkin lahir dari niat yang tulus. Dari luka lama yang ingin disembuhkan. Tapi niat baik saja tidak cukup jika konteks sudah berubah. Hari ini, tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar memberi makan, melainkan bagaimana mencerdaskan, memberdayakan, dan menyiapkan daya saing. Keberanian sejati seorang pemimpin bukan hanya setia pada masa lalunya, tetapi berani menyesuaikan diri dengan kenyataan hari ini.

6. How: Bagaimana Kita Seharusnya Melangkah?

Solusinya bukan meniadakan empati, melainkan mengkalibrasi ulang empati tersebut. Anggaran triliunan rupiah itu akan jauh lebih berdampak jika dialokasikan untuk:

Ini bukan untuk meniadakan empati. Justru untuk mengingatkan bahwa di tahun 2026 ini, cara terbaik mencintai rakyat adalah dengan memberi mereka "pancing" yang modern, bukan sekadar "ikan" yang sudah dimasak sesuai selera masa lalu.