🩺🌎 Pasukan Berjas Putih Kuba: Solidaritas Dokter yang Mendunia dan Jejaknya di Indonesia

Dari Karibia hingga Aceh, 55 ribu tenaga medis bekerja tanpa bayaran. Kisah kemanusiaan yang sering dilupakan.

Ada negara kepulauan kecil di Karibia yang justru mengirim pasukan berjas putih—dokter, perawat, tenaga medis—tanpa meminta bayaran sepeser pun. Ya, Kuba. Sejak 1960, mereka mengubah wajah diplomasi: bukan dengan rudal, tapi dengan stetoskop dan obat-obatan. Yuk, kita bedah tuntas perjalanan solidaritas luar biasa ini, plus hubungan hangat dengan Indonesia, dan mengapa kita perlu bicara tentang Kuba hari ini.

Dokter Kuba Brigade Henry Reeve sedang bertugas dalam misi kemanusiaan
Brigade Henry Reeve, pasukan berjas putih asal Kuba dalam misi kemanusiaan internasional. Foto: Arsip Solidaritas Kuba

📌 Apa yang Dilakukan Kuba? (What)

Kuba secara konsisten mengirimkan tenaga medis ke negara-negara yang dilanda bencana alam, konflik, atau krisis kesehatan. Program ini dimulai pasca-revolusi Kuba tahun 1959. Fidel Castro, pemimpin revolusioner, mencanangkan misi “internasionalisme medis”. Bukan sekadar bantuan biasa, tapi ribuan dokter dikerahkan dalam skala besar. Hingga pertengahan 2020, 55.000 dokter Kuba telah bertugas di 66 negara. Brigade Henry Reeve—nama yang terinspirasi dari tentara AS yang berjuang bersama Kuba—menangani bencana dan epidemi. Mereka bekerja cuma-cuma, tanpa pamrih. Keren sangat, kan?

Fakta cepat: Lebih dari 600.000 misi medis internasional telah dilakukan Kuba sejak 1960. Pada masa pandemi COVID-19, Kuba mengirim 3.700 tenaga kesehatan ke 40 negara.

👨⚕️ Siapa di Balik Brigade Henry Reeve? (Who)

Tokoh kunci: Fidel Castro dan Ernesto “Che” Guevara. Fidel mencetuskan misi kemanusiaan sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Brigade Henry Reeve sendiri diresmikan pada 2005, dinamai dari tentara AS kelahiran New York yang bergabung dengan kemerdekaan Kuba. Saat badai Katrina menghantam AS, Kuba langsung menawarkan 1.500 dokter—tawaran yang akhirnya diterima. Para dokter ini adalah garda terdepan, profesional andal dari sekolah kedokteran Kuba yang dikenal gratis dan berkualitas. Mereka ikhlas meninggalkan keluarga untuk misi lintas benua.

“Dokter Kuba tidak datang untuk berbisnis, mereka datang untuk menyelamatkan nyawa.” — Fidel Castro, 2005.

⏳ Jejak Waktu: Dari 1960 hingga Kini (When)

Perjalanan panjang dimulai tahun 1960, saat Kuba mengirim tim medis pertama ke Aljazair pasca-kemerdekaan. Lalu tahun 1970-an hingga 1990-an, ekspansi ke Amerika Latin dan Afrika. Tahun 2005, badai Katrina menjadi momentum internasional. Namun, momen paling membekas bagi kita di Indonesia: 2004 Tsunami Aceh dan 2006 gempa Jogja-Jateng. Hanya 60 jam setelah Fidel Castro menelepon Presiden SBY, 135 dokter Kuba sudah tiba di Jogjakarta, lengkap dengan dua rumah sakit lapangan. Sebuah kecepatan yang mencerminkan kesungguhan.

🗺️ Di Mana Saja Mereka Beraksi? (Where)

Mereka hadir di lebih dari 66 negara: Chile, Nikaragua, Aljazair, Afrika Selatan, Venezuela, Pakistan, Haiti, dan tentu saja Indonesia. Di Aceh pasca-tsunami 2004, Kuba mengirim 25 dokter dan paramedis langsung ke lokasi paling terdampak. Dua tahun kemudian, 135 tenaga medis diterjunkan di Jogja dan sekitarnya, membantu korban gempa 6,3 SR yang menewaskan ribuan jiwa. Mereka mendirikan posko dan rumah sakit darurat, merawat luka fisik dan trauma warga. Jejak solidaritas itu masih dikenang hingga kini.

Dokter Kuba bersama masyarakat Indonesia pasca bencana
Ilustrasi kedatangan Brigade Henry Reeve di lokasi bencana (Aceh / Jogja) — solidaritas tanpa batas.

🤝 Mengapa Kuba Melakukan Ini? (Why)

Ada tiga akar utama: nilai revolusioner, solidaritas Selatan-Selatan, dan anti kolonialisme. Bagi Kuba, kesehatan adalah hak dasar, bukan komoditas. Mereka juga punya ikatan historis kuat dengan Indonesia. Presiden Sukarno adalah kepala negara pertama yang mengunjungi Kuba pasca-revolusi (22 Januari 1960). Sebaliknya, pada Juni 1959, Che Guevara memimpin delegasi Kuba ke Jakarta, bertemu Bung Karno di Istana Merdeka, lalu mengunjungi Candi Borobudur. Indonesia dan Kuba sama-sama inisiator Konferensi Trikontinental (Asia, Afrika, Amerika Latin) untuk memperluas gerakan Non-Blok. Persaudaraan itu lahir dari semangat melawan penjajahan dan membangun tatanan dunia lebih adil.

Selain itu, motivasi kemanusiaan murni menjadi DNA Kuba. Mereka tidak pernah meminta imbalan finansial dari negara penerima bantuan. Hingga kini, sudah ada lebih dari 600 ribu tenaga medis Kuba yang bertugas di luar negeri secara bergilir. Bagi mereka, “mengobati adalah bentuk perlawanan”.

⚖️ Bagaimana Dampaknya & Kondisi Kuba Saat Ini? (How)

Dampak dari misi medis Kuba luar biasa: puluhan juta nyawa terselamatkan, sistem kesehatan di berbagai negara terbangun, dan munculnya rasa hormat global. Tapi hari ini, Kuba justru sedang menghadapi badai. Di bawah pemerintahan Donald Trump (periode lalu) dan dilanjutkan tekanan blokade ekonomi AS yang diperketat, Kuba dicekik sejak 1962. Tidak setetes minyak boleh masuk, investasi asing dipersulit, dan ekonomi ringkih. Pandemi juga memperparah kelangkaan obat dan makanan.

Sayangnya, di tengah kesulitan Kuba, sikap pemerintah Indonesia terasa senyap. Tidak ada kecaman resmi terhadap embargo AS yang jelas-jelas melanggar hukum internasional. Padahal di masa lalu, Sukarno dan Soeharto (awal) cukup vokal mendukung kemerdekaan Kuba. Banyak yang bertanya: apakah karena posisi Indonesia yang kini dianggap “satu keranjang” dengan kebijakan AS dan Israel, sehingga takut bersuara? Publik mempertanyakan solidaritas yang dulu pernah mengalir deras. Padahal Kuba dulu selalu jadi yang pertama membantu Indonesia di saat susah. Kita layak bertanya: Di mana sikap tegas untuk kawan lama?

Seruan: Presiden dan rakyat Indonesia perlu menunjukkan solidaritas nyata terhadap Kuba. Setidaknya, kecam blokade ilegal AS yang menyengsarakan 11 juta rakyat Kuba.

🌐 Sejarah Panjang Indonesia-Kuba di Panggung Dunia

Biar makin greget, kita flashback ke era 60-an. Kuba dan Indonesia sama-sama menjadi penggerak Gerakan Non-Blok (GNB). Bahkan, Kuba dan Indonesia bersama negara-negara lain menginisiasi Konferensi Trikontinental 1966 di Havana, yang memperkuat solidaritas Asia-Afrika-Amerika Latin. Sukarno kala itu sangat dihormati oleh Fidel Castro. Di Jakarta, ada nama jalan “Cuba” sebagai simbol persahabatan. Che Guevara mengagumi semangat anti-imperialisme Bung Karno. Maka, ketika hari ini Indonesia bungkam di tengah penderitaan Kuba, banyak aktivis dan sejarawan merasa miris. Bukankah kita dulu sama-sama berjuang?

📢 Refleksi: Antara Bantuan Masa Lalu dan Tantangan Masa Kini

Kisah dokter Kuba mengajarkan bahwa kekuatan sejati suatu bangsa bukan pada jumlah jet tempur, tapi pada seberapa banyak ia menolong sesama. Fidel Castro pernah berkata: “Revolusi sejati adalah yang mampu mengubah hati.” Dan pasukan berjas putih itu telah membuktikannya. Dari hutan belantara Afrika sampai pesisir Aceh, mereka meninggalkan jejak kemanusiaan yang harum. Maka, sudah selayaknya kita, sebagai bangsa yang pernah merasakan langsung kebaikan mereka, ikut menyuarakan pembebasan Kuba dari blokade ekonomi. Tak perlu nuklir, cukup pernyataan diplomatik dan dukungan moral. Mari kita gema ulang solidaritas sejati.