Refleksi Harian β’ Frijal

Pagi ini saya sempat observasi kecil-kecilan sekelompok murid berseragam sekolah negeri yang ada agenda di alun-alun. Sebenarnya tidak ingin cepat men-judge, karena tiap anak punya latar belakang, dan guru-guru di sekolah negeri juga banyak yang luar biasa dedikasinya. But stillβ¦ ada yang membuat elus dada. π
Bahasa mereka... Astaghfirullah.
"Anj*, golk!"
Love language ke teman pun modelnya, "Gembel amat lu, kagak punya paket ya?!"
Saya tidak sedang membahas slang atau logat daerah ya. Ini bukan soal medok atau gaul. Ini pure kekasaran yang sudah menjadi normal. Kekasaran yang tidak lagi mereka sadari sebagai kekasaran.
Lalu soal tidak layak bekas makan yang digeletakkan begitu saja di meja public place. Padahal kotak tidak layak ada. Plang peringatan ada. Bahkan di playground kecil itu ada tulisan besar:
"Area ini untuk anak usia s/d 12 tahun dengan berat maksimal 30 kg."
Dan apa yang terjadi? Murid-murid SMP duduk di ayunan, main barbar sampai berbunyi "nyiit nyiit", dan yang kecil tidak kebagian tempat. π€¦βοΈ
Setelah kejadian itu, saya merenung panjang. Jika kita bedah menggunakan pisau analisis Pendidikan Islam dan sosiologi pendidikan, sebenarnya fenomena ini bukan sekadar "kenakalan remaja" biasa. Ini adalah diagnosis sosial atas penyakit yang sedang menggerogoti generasi kita.
Prof. Syed Naquib Al-Attas sangat tepat ketika mendefinisikan Adab sebagai "Meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan harkat dan martabatnya."
Ketika murid SMP (badan besar) duduk di ayunan balita (kapasitas kecil), itu bukan sekadar iseng. Itu adalah manifestasi dari hilangnya adab. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Mereka gagal meletakkan diri mereka (fisik dewasa) di tempat yang semestinya, dan gagal meletakkan hak orang lain (anak kecil) di atas ego mereka.
Jadi, tidak layak yang berserakan dan bahasa kotor itu hanyalah gejala permukaan. Penyakit aslinya ada di dalam: ketidakmampuan menempatkan nilai dan hak pada posisinya.
Pernah dengar istilah ini? Dalam Islam, orang tua adalah Murabbi (pendidik). Namun hari ini, banyak anak yang memiliki orang tua secara biologis, namun menjadi "yatim piatu" secara tarbiyah. π’
Akibatnya? Standar moral mereka bergeser. Kata kasar bukan lagi penghinaan, tapi dianggap "tanda keakraban". Distorsi nilai yang mengerikan, bukan?
Apakah jaraknya sudah sejauh ini? Jawabannya: Ya.
Bukan sekadar pemisahan antara sekolah Islam vs Negeri, tetapi pemisahan antara anak-anak yang "Dirawat" (Intentional Parenting) vs anak-anak yang "Dibiarkan Tumbuh" (Accidental Parenting).
Anak yang ditarbiyah dengan worldview Islam diajarkan bahwa Allah Maha Melihat (Muraqabah), sehingga mereka takut membuang sampah sembarangan meski tidak ada CCTV. Sementara anak yang tumbuh liar hanya takut pada sanksi fisik atau takut viral. Ketika dua jenis anak ini bertemu di ruang publik, benturannya sangat terasa.
Sistem pendidikan kita sering kali terlalu berat pada Transfer of Knowledge (memindahkan isi buku ke kepala), tapi lemah dalam Transfer of Values (memindahkan adab ke hati). Sekolah tak ubahnya pabrik pekerja. Selama nilai matematika lebih dipuja daripada kejujuran atau kebersihan, maka kita akan terus memanen generasi yang pintar secara akademis tapi "buta huruf" secara moral.
Mengeluh saja tidak akan mengubah keadaan. Kita perlu aksi nyata, mulai dari rumah kita sendiri. Saya menyusun "Checklist Diskusi Adab Harian" ini. Ingat ya, alat bantu ini bukan untuk menginterogasi anak (nanti mereka malah kabur), tapi sebagai pemantik obrolan santai saat makan malam atau di perjalanan.
Tujuannya? Mengaktifkan "Alarm Hati" (nurani) mereka agar mampu menilai situasi sosial dan tidak ikut arus.
Fokus: Mencegah normalisasi kata kasar & bullying verbal.
Fokus: Tanggung jawab sampah & fasilitas umum.
Fokus: Menghormati hak orang lain & menempatkan diri.
Fokus: Menjaga pandangan & komentar.
Jangan Langsung Menghakimi. Jika anak mengaku dia ikut bicara kasar, jangan langsung "meledak". Validasi dulu perasaannya.
Salah: "Astaghfirullah! Ibu tidak pernah ajarin gitu ya!"
Benar: "Oh, teman-teman ngomong gitu semua? Terus perasaan Kakak gimana pas ngucapin itu? Enak di hati atau malah jadi gelisah?"
Jadilah Role Model. Pastikan kita sendiri tidak membuang tisu lewat jendela mobil atau memaki pengendara motor yang nyelonong saat ada anak di samping kita.
Tutup diskusi dengan doa: "Ya Allah, baguskanlah akhlak anakku sebagaimana Engkau membaguskan kejadian penciptaannya."
Semoga tulisan dan tools sederhana ini bermanfaat. Mari kita jaga benteng terakhir peradaban ini: Keluarga Kita.