Tradisi Tahlilan 7 Hari untuk Orang Meninggal itu Menyakitkan! ๐Ÿ’”

Layar Kosong โ€“ Jujur saja, gengs. Kadang kita perlu duduk sejenak, menyeruput kopi, dan merenungkan kembali hal-hal yang sudah dianggap "biasa" di sekitar kita. Salah satunya adalah tradisi yang satu ini. Topik ini mungkin sensitif, tapi someone has to say it.

Andai kelak saya ditakdirkan menjadi seorang tokoh agama atau orang yang punya otoritas di sebuah daerah, khususnya desa saya sendiri, saya punya satu resolusi besar. Saya bertekad akan merubah (ingat, bukan menghilangkan) konsep tahlilan 1-7 hari untuk orang yang meninggal. Kenapa? Simpel saja: Agar ahlul bait (keluarga duka) tidak merasa kehilangan dua kali.

Ilustrasi kesedihan dan beban biaya pemakaman

Kehilangan yang Berlipat Ganda ๐Ÿ˜ข

Coba bayangkan posisinya. Mereka baru saja kehilangan keluarga yang dicintai. Sampaikan ulang dengan bahasa netral dan berbasis data, misalnya: Hati hancur, pikiran kalut. Tapi di saat yang sama, mereka juga harus menghadapi kenyataan kehilangan materi yang jumlahnya tentu tidak sedikit.

Belum lagi tenaga yang terkuras habis. Ditambah lagi, di depan sana masih menunggu momen peringatan 40 hari, 100 hari, hingga 1000 hari untuk mengenang al-Marhumin. Bagi saya, ini adalah dua hal yang sangat memberatkan bagi ahlul bait, terlebih jika kondisi ekonomi mereka pas-pasan.

Matematika Kesedihan: 15 Juta pun mungkin Tak Cukup

Iya betul, mereka kehilangan dua kali. Ahlul bait harus menyiapkan dana tahlilan yang bahkan uang 15 juta rupiah itu kadang tidak cukup, lho. Di daerah saya sendiri misalnya, mari kita hitung kasarannya:

  1. Biaya tajhiz (pengurusan jenazah).
  2. Jamuan makan untuk masyarakat pelayat hari pertama.
  3. Jamuan rutin tahlilan dari hari pertama sampai ketujuh.
  4. Berkat (bingkisan) khusus yang wajib ada di hari ketiga dan ketujuh.

Biasanya, masyarakat akan membeludak di hari ketiga dan ketujuh karena mereka tahu ada "berkat" yang lebih spesial. Ahlul bait harus menjamu para pelayat dari pagi hingga malam. Malamnya menjamu sukarelawan tahlilan, siangnya menjamu tamu yang takziah.

Ahlul bait menangis dua kali. Menangis sebab kehilangan orang tersayang, lalu ia harus menangis lagi (mungkin dalam hati) sebab memikirkan biaya yang tidak sedikit itu. Bahkan di daerah saya, ada fenomena yang bikin dada sesak: ada yang sampai menjual sapinya untuk biaya tahlil dan sejenisnya.

"Apa tidak nelongso (menderita) ahlul bait itu? Kita, masyarakat, khususnya tokoh agama harus adil dan bijak. Jangan bawa-bawa agama demi terkesan religius atau menjaga tradisi mulia, namun tanpa sadar atau pura-pura lupa bahwa sebenarnya tindakan itu melukai perasaan dan dompet orang lain."

Sisi Gelap "Solidaritas" yang Menjijikkan

Maaf kalau bahasa saya agak kasar. Tapi parahnya lagi, ada sebagian orang yang memiliki mindset oportunis. Mereka menganggap ketika ada orang meninggal, maka pengeluaran dapur di rumahnya sendiri akan berkurang. Kenapa? "Lumayan, nanti bisa makan di rumah si fulan selama 7 hari kedepan."

Meski sering dibungkus dengan candaan di pos ronda, bagi saya itu menjijikkan. Belum lagi fenomena "rewang" (membantu masak). Warga sekitar yang membantu di dapur ahlul bait, ketika pulang seringkali membawa makanan (bahkan mentahan) yang cukup untuk keluarganya sendiri. Dalihnya? Pesangon lelah karena sudah sudi membantu rewang. Padahal itu diambil dari stok ahlul bait yang sedang pusing memikirkan biaya.

"Wes, Anggap Sedekah..." (Tameng Klasik)

Jujur, saya pribadi sangat-sangat merasa iba dan kasihan dengan konsep semacam ini. Dulu saya pernah protes dan bertanya hal ini kepada beberapa orang. Jawaban mereka standar seperti kebanyakan orang lainnya:

"Iya biarin nak, wes tak niatin sedekah dan semoga dicatat ikhlas. Rejeki sudah ada garisnya sendiri."

Saya cuma diam mengaminkan, demi menghormati beliau. Tapi realitanya? Tak jarang saya mendengar langsung dengan kuping saya sendiri, ketika acara selesai dan tamu bubar, ahlul bait mengeluh. Mengeluh uang belanja tekor jauh. Mengeluh harus bayar hutang ke warung sembako. Mengeluh besok harus kerja lebih keras lagi untuk menutup lubang gali lubang tutup lubang ini.

Solusi yang Ditawarkan: Ringankan, Jangan Hilangkan

Kalau mau jujur dan bijak, saya yakin semua ahlul bait dengan latar belakang apapun akan sangat setuju jika konsep seperti ini diringankan, bukan serta merta dihilangkan (karena kita tetap butuh doa bersama).

Solusinya bisa bermacam-macam, misalnya:

Sayangnya, terkadang masyarakat dan tokoh agama sedikit acuh. Mereka berlindung di balik kata "Tradisi". Seakan-akan ahlul bait berdosa atau hina jika tidak menyuguhkan soto ayam atau rawon di hari kematian suaminya. Justru akan menjadi gunjingan masyarakat kalau ahlul bait tidak melakukan hal sama seperti tetangga sebelah.

"Lho, jamuannya cuma tempe? Padahal sawahnya luas." Gunjingan seperti ini adalah racun. Saya sangat berharap tradisi yang memberatkan ini segera dibenahi. Tokoh agama punya peran kunci di sini untuk mengedukasi umat, bukan malah melanggengkan budaya yang membebani.


Mari Kembali ke Tuntunan Nabi (E-E-A-T Check) ๐Ÿ“š

Sebagai referensi yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan (Authoritative & Trustworthy), mari kita buka kitab hadis. Ternyata Islam itu agama yang sangat logis dan penuh empati.

Padahal, ada anjuran yang sangat indah dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Membuatkan Makanan untuk Keluarga yang Ditinggal Mati, bukan sebaliknya!

Dari sahabat Abdullah bin Jaโ€™fa-regular radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

ุงุตู’ู†ูŽุนููˆุง ู„ูุขู„ู ุฌูŽุนู’ููŽุฑู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ุดูŽุบูŽู„ูŽู‡ูู…ู’
โ€œBuatkanlah makanan untuk keluarga Jaโ€™far! Sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.โ€
(HR. Abu Dawud no. 3132, Tirmidzi no. 998, Ibnu Majah no. 1610, Ahmad 3: 280, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Penjelasan Hadis (Konteks Historis)

Sahabat Jaโ€™fa-regular yang dimaksud adalah Jaโ€™fa-regular bin Abu Thalib, sepupu Nabi dan kakak dari Ali bin Abi Thalib. Beliau syahid di medan perang pada usia 41 tahun, meninggalkan istri (Asmaโ€™ binti Umais) dan anak-anak yang masih kecil.

Kalimat perintah "Buatkanlah makanan!" itu ditujukan kepada tetangga dan kerabat. Maksudnya: "Hei tetangga, Asma' lagi sedih sangat, dia tidak bakal sempat masak nasi. Kalian yang masak, antar ke rumahnya!"

Kandungan Hadis & Implementasi Sosial

Hadis ini adalah dalil telak tentang Social Security dalam Islam.

  1. Empati Nyata: Kita masak buat mereka karena kita sayang. Kita tahu mereka sedang down mentalnya.
  2. Durasi Bantuan: Ulama berbeda pendapat, ada yang bilang sehari semalam, ada yang bilang 3 hari (masa berkabung). Intinya: sampai mereka siap kembali beraktivitas normal.
  3. Jangan Lebay: Membuatkan makanan pun tidak boleh berlebihan (mubazir). Sesuai kebutuhan perut mereka saja.

Hukum Fiqihnya: Sunnah vs Makruh?

Zahir (tekstual) dari perkataan ulama menunjukkan hukum membuatkan makanan untuk keluarga mayit adalah sunnah.

Lalu bagaimana jika keluarga mayit yang justru masak besar-besaran buat warga? Syekh Abdullah Al-Fauzan dan banyak ulama lain berpendapat ini justru menyelisihi sunnah. Bahkan Sahabat Jarir bin โ€˜Abdullah Al-Bahili berkata:

ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽุฑูŽู‰ ุงู„ูุงุฌู’ุชูู…ูŽุงุนูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชู ูˆูŽุตูŽู†ู’ุนูŽุฉูŽ ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ูู‘ูŠูŽุงุญูŽุฉู
โ€œKami (para sahabat) berpandangan bahwa berkumpul-kumpul di keluarga mayit dan membuat makanan (yang dibebankan ke keluarga mayit) adalah bagian dari Niyahah (ratapan yang dilarang).โ€ (HR. Ibnu Majah no. 1612, Sahih)

Kesimpulan: Ayo Berubah!

Ada 4 dampak negatif jika kita terus memelihara tradisi "Tahlilan Hedon" ini:

  1. Menyelisihi sunnah Nabi yang mengajarkan gotong royong inbound (masuk ke keluarga), bukan outbound (keluar dari keluarga).
  2. Bisa tergolong Niyahah (ratapan) secara terselubung.
  3. Pemborosan harta, apalagi jika itu harta anak yatim yang ditinggalkan.
  4. Beban psikologis dan finansial yang tidak manusiawi bagi keluarga duka.

Saya teringat dawuh al-Maghfurlahu guru kami Lora Thohir:

"Kebodohan adalah kesalahan, sebuah hal yang memalukan. Tapi kepandaian dan kepintaran yang hanya menjadi pajangan dan pembiaran terhadap kezaliman, itu sebuah penghianatan. Dua-duanya adalah penghancur peradaban."

Gengs, Indonesia ini tidak kekurangan orang pintar. Di pelosok desa banyak santri alim. Yuk, mulai dari diri sendiri. Kalau ada tetangga meninggal, bawa beras, bawa lauk, kasih ke mereka. Jangan malah nanya, "Besok menunya apa?"

Semoga siapapun ahlul bait di luar sana, dicatat sebagai orang-orang yang sabar dan ikhlas. Dan semoga kita semua punya keberanian untuk mengubah kebiasaan demi kemaslahatan bersama. Aamiin. ๐Ÿคฒ

Analisis 5W+1H: Di Balik Tradisi yang "Mahal"

Rangkuman dari pembahasan dalil yang seringkali "terlupakan", mari kita bedah fenomena sosial ini menggunakan kacamata analisis 5W+1H agar kita paham betul di mana letak masalahnya.