Kisah #SebarUbuntu: Saat Komunitas Ubuntu Jogja Turun ke Jalan

Ketika sebuah acara rilis yang batal justru melahirkan pergerakan jalanan yang hangat dan personal di sudut-sudut kota pendidikan.

Ada kalanya rencana yang tidak berjalan mulus justru menjadi pintu masuk untuk ide-ide yang lebih brilian dan membekas di hati. Cerita ini membawa kita kembali ke awal tahun 2014, sebuah momen di mana para penggiat open source membuktikan bahwa semangat berbagi tidak harus selalu terkurung di dalam ruangan ber-AC atau gedung pertemuan yang mewah.

Stiker berlogo Ubuntu dibagikan oleh panitia kepada peserta di jalanan saat gerakan SebarUbuntu berlangsung
Senyum hangat di balik pembagian stiker eksklusif dalam kampanye #SebarUbuntu di sudut kota.

Dari Gagalnya Pesta Rilis ke Aksi Jalanan

Dalam tradisi ekosistem Linux, setiap kali Canonical merilis versi terbaru Ubuntu, komunitas-komunitas lokal di berbagai penjuru dunia biasanya akan menyambutnya dengan sorak sorai perayaan. Begitu pula saat rilis Ubuntu 13.10 yang diberi codename "Saucy Salamander" pada bulan Oktober 2013 lalu. Di Indonesia, perayaan semacam ini sangat dinantikan dan sering dikenal luas dengan sebutan Saucy Release Party.

Namun, dinamika lapangan terkadang berkehendak lain. Karena adanya rentetan kendala teknis dan persiapan yang sedikit tersendat pada akhir Januari, panitia dari Komunitas Ubuntu Jogja akhirnya dengan berat hati perlu mengurungkan niat untuk menggelar acara seremonial tersebut di dalam gedung. Hasil dapat berbeda tergantung perangkat, versi paket, dan konfigurasi sistem. Alih-alih meratapi batalnya acara formal, otak kreatif teman-teman komunitas ini langsung berputar mencari jalan keluar yang lebih segar.

Lahirlah sebuah kampanye jalanan yang sederhana namun sangat mengena: #SebarUbuntu. Gerakan sporadis ini dieksekusi secara fleksibel selama dua minggu penuh, terhitung sejak tanggal 1 hingga 14 Februari 2014. Konsep operasionalnya tidak butuh panggung megah; panitia cukup "berkeliaran" membelah kota Yogyakarta, menyambangi tempat nongkrong, kampus, warung kopi, atau bahkan trotoar.

Di mana pun ada pengguna yang kedapatan mengoperasikan laptop bersistem Ubuntu, di situlah panitia akan merapat. Mereka menyapa, membuka obrolan santai seputar open source, dan mengakhirinya dengan sebuah cendera mata manis: stiker resmi nan kece dari Komunitas Ubuntu Indonesia.

Pendekatan turun ke jalan (street grassroot) ini rupanya menghadirkan nuansa yang jauh lebih intim dan mencairkan suasana. Tidak ada dinding birokrasi antara pembicara dan peserta layaknya di dalam seminar. Yang tersisa hanyalah obrolan tulus sesama penggemar teknologi, tawa riang, dan rasa solidaritas yang kental di antara sesama "tukang oprek" Linux.

Meskipun gerakan ini lahir dari keterbatasan, nyatanya aksi membumi seperti #SebarUbuntu ini justru sukses besar dalam membuat eksistensi Ubuntu makin terlihat secara kasatmata di ruang publik. Gerakan ini bukan sekadar perayaan software baru, melainkan sebuah bentuk apresiasi langsung yang diantarkan langsung ke hadapan para pengguna setianya. Tentu saja, ini menjadi bukti tak terbantahkan dari tingginya kreativitas dan daya tahan (resilience) komunitas open source di Indonesia!

Galeri Kenangan #SebarUbuntu

Momen-momen di mana stiker oranye ikonis itu berpindah tangan dari panitia ke pengguna telah diabadikan dengan baik. Berikut adalah beberapa jepretan yang menangkap hangatnya interaksi komunitas di lapangan pada saat itu:

Lebih dari sekadar merayakan rilis "Saucy Salamander", kampanye jalanan ini telah merajut kenangan indah. Hal ini mengingatkan kita bahwa kekuatan teknologi sejati tidak hanya terletak pada barisan kode komputernya, melainkan pada kehangatan manusia yang menggerakkannya bersama-sama.