Linus Torvalds baru saja menggunakan AI untuk membantu memperbaiki bug di kernel Linux. Ini peristiwa langka, bukan karena ia memakai AI, melainkan karena ia sudah jarang menyentuh kode secara langsung. Sejak beberapa tahun terakhir, perannya lebih banyak sebagai maintainer yang meninjau kiriman dan menggabungkan pull request.

Liburan Natal lalu, Torvalds memang sempat memakai AI untuk pertama kalinya pada proyek hobi pribadi. Awalnya ia menolak, tetapi kemudian ia berdamai dengan teknologi ini, bahkan untuk kontribusi kode yang dibantu AI di proyek kernel. Namun, kejadian kali ini istimewa karena ia membuat patch kernel sendiri.

Bug yang ia tangani berada di driver grafis Intel Xe untuk kartu Battlemage G21. Akibatnya, GDM, display manager yang menangani layar login, restart terus-menerus tanpa henti. Masalah ini cukup mengganggu karena membuat sesi login tidak bisa stabil.

Linus Torvalds memberikan pandangannya tentang AI
Torvalds berbagi pandangannya beberapa bulan lalu. Banyak hal telah berubah sejak itu.

Debugging dengan Bantuan AI

Melacak akar masalah bukan pekerjaan sepele. Torvalds membutuhkan 24 patch debug dan 18 kali boot kernel. Pada akhirnya, biang keladinya adalah satu baris kode di mana round_up() seharusnya round_down(). Perubahan satu baris, tetapi proses menemukannya yang menghabiskan waktu dan tenaga.

AI membantu Torvalds melakukan pekerjaan kasar: menambahkan instrumentasi debug, menjalankan analisis, dan bahkan menulis pesan commit akhir. Bagian terakhir itu memang membosankan tetapi tetap harus dilakukan. Menurut Torvalds, ini adalah sesi debug yang sangat berat, dan AI membantu banyak.

Ini adalah sesi debug dari neraka, sangat terbantu oleh AI yang melakukan banyak pekerjaan kasar.

Meski demikian, prosesnya tidak mulus. AI beberapa kali mengatakan bahwa masalahnya mustahil dan tidak bisa diselesaikan. Torvalds menolak menyerah. Ia menduga AI dilatih oleh orang-orang yang mungkin tidak sekeras kepalanya.

AI Hanya Alat, Manusia Tetap Penentu

Banyak orang di industri perangkat lunak memahami hal ini: AI hanyalah alat, dan menjadi sangat berguna ketika ada manusia mampu yang mengendalikan prosesnya. Contoh Torvalds memperjelas hal itu. Seorang vibe coder tanpa pengetahuan tentang kode mungkin akan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada AI, dan AI akan menyatakan bug tidak bisa diperbaiki lalu berhenti.

Tetapi Torvalds punya pengalaman. Ia bisa menilai mana yang benar dan salah dari apa yang dilakukan AI. Ia bertahan dan memperbaiki bug tersebut. Patch itu akan masuk ke Linux 7.3 dan telah ditandai untuk di-backport ke cabang kernel stabil.

Detail teknis dan konteks tambahan

Beberapa detail teknis yang patut dicatat dari insiden ini:

  • Bug terjadi pada driver Intel Xe untuk kartu Battlemage G21, menyebabkan GDM restart tanpa henti.
  • Proses pelacakan memerlukan 24 patch debug dan 18 kali boot kernel.
  • Akar masalah: pemanggilan round_up() yang seharusnya round_down().
  • AI membantu menambahkan instrumentasi debug, menjalankan analisis, dan menulis pesan commit.
  • AI sempat menyatakan masalah tidak bisa diselesaikan, tetapi Torvalds terus melanjutkan.
  • Patch dijadwalkan masuk Linux 7.3 dan akan di-backport ke cabang stabil.

Pelajaran dari Insiden Ini

Pencipta Linux itu membutuhkan 18 kali boot untuk menemukan perbaikan satu baris. AI membantunya sampai ke sana. Meski begitu, Torvalds kemungkinan akan tetap menemukannya sendiri, hanya saja butuh waktu lebih lama. Tidak ada informasi tentang model atau alat AI apa yang ia gunakan kali ini.

Pada proyek pribadinya dulu, ia memakai Gemini dari Google. Sepertinya ia belum tertarik pada AI lokal untuk saat ini. Semoga ia menemukan cukup minat dan memberi kita hadiah baru setelah kernel Linux dan Git. Harapan yang mungkin terlalu muluk, tetapi tidak ada salahnya berharap.