Dulu aku pikir Snap adalah cara direkomendasikan instal aplikasi di Ubuntu. Hasil dapat berbeda tergantung perangkat, versi paket, dan konfigurasi sistem. Tapi setelah bertahun-tahun, aku sadar ada yang aneh. Spotify lemot, Firefox scroll-nya tidak halus, dan perintah lsblk dipenuhi loop device. Flatpak datang sebagai penyelamat yang tidak aku duga.

Aku adalah pengguna setia Ubuntu. Awalnya, Snap terasa modern: semua aplikasi dalam satu tempat, update otomatis. Tapi lama-lama aku merasakan keanehan: saat membuka Spotify, kadang muncul “pending refresh” yang membuat delay beberapa detik. Firefox terasa berat, video playback patah-patah. Aku kira itu masalah sistem, sampai akhirnya aku coba Flatpak. Di sinilah aku sadar: masalahnya ada di Snap, bukan di komputer aku.
Pengguna Ubuntu dan distro Linux yang mengandalkan Snap sebagai manajer paket utama. Khususnya mereka yang menggunakan aplikasi seperti Spotify, Firefox, VS Code, atau aplikasi multimedia. Siapa saja yang pernah merasa “aplikasi tiba-tiba ngadat” tanpa alasan jelas, bisa jadi korban kelemahan Snap.
Setiap kali Snap melakukan refresh background (biasanya 4 kali sehari). Di saat itu, aplikasi yang sedang dibuka bisa mengalami jeda. Juga saat pertama kali membuka aplikasi setelah update, delay-nya cukup terasa. Masalah akses GPU terjadi sejak awal karena default confinement Snap yang membatasi akses perangkat keras.
Di antarmuka pengguna (UI) dan sistem file. Coba jalankan lsblk setelah menginstal 10 aplikasi Snap: Anda akan melihat setidaknya 10 loop device. Itu karena setiap Snap memasang squashfs terpisah. Flatpak menggunakan OSTree dan fuse-overlayfs, sehingga daftar perangkat tetap bersih. Perbedaan juga terlihat di performa aplikasi dan kontrol update.
Flatpak tidak punya daemon yang selalu aktif (snapd). Update bisa dikontrol manual, jadi tidak ada “pending refresh” yang mengganggu. Akses ke GPU dan hardware lebih fleksibel. Aku bisa menggunakan Flatseal untuk mengatur izin aplikasi secara granular. Ditambah lagi, Flathub sebagai repositori utama lebih terbuka dibanding Snap Store yang dikontrol penuh oleh Canonical.
Instalasi Flatpak gampang: sudo apt install flatpak lalu tambahkan Flathub flatpak remote-add --if-not-exists flathub https://flathub.org/repo/flathub.flatpakrepo. Kemudian instal aplikasi seperti Spotify: flatpak install flathub com.spotify.Client. Setelah itu, hapus versi Snap-nya dan nikmati kendali penuh. Tapi hati-hati: beberapa paket sistem seperti ubuntu-advantage-tools bisa menginstal ulang snapd secara diam-diam. Periksa selalu dengan snap list.

| Aspek | Snap | Flatpak |
|---|---|---|
| Keterbukaan Store | Tunggal, dikontrol Canonical | Flathub + remote tambahan |
| Proses Latar Belakang | snapd selalu berjalan | Tidak ada daemon permanen |
| Kontrol Update | Otomatis, terjadwal (bisa delay) | Manual (atau bisa auto via GNOME Software) |
| Integrasi Tema GTK | Sering bermasalah, tema pecah | Lebih baik, tapi masih perlu Flatseal |
| Akses GPU/Hardware | Terbatas (default confinement) | Bisa disesuaikan lewat Flatseal |
| CLI Experience | snap run aplikasi | flatpak run org.aplikasi.ID (agak panjang) |
| Loop Device / Clutter | Banyak loop device (tiap app) | Bersih, pakai overlayfs |





Tentu Flatpak tidak sempurna. Beberapa aplikasi seperti VS Codium mengalami kendala sandboxing jika butuh akses sistem yang dalam. Tema GTK belum 100% mulus, kadang perlu konfigurasi manual. CLI-nya juga kurang praktis karena harus mengetik ID panjang (flatpak run org.mozilla.firefox). Namun perbedaan besarnya: Masalah Flatpak bisa dilacak dan diperbaiki (misal dengan Flatseal). Sedangkan masalah Snap terasa abstrak, seperti sistem “bekerja melawan Anda”.

Tidak. Aku memilih untuk menurunkan status Snap, bukan menghapusnya. Beberapa aplikasi sistem seperti firefox (di Ubuntu) terintegrasi dengan Snap, dan aku masih mempertahankan beberapa tool level sistem dalam bentuk Snap. Prinsipnya: “gunakan alat yang tepat untuk pekerjaan yang tepat”. Untuk aplikasi sehari-hari (Spotify, Telegram, Blender, dll), Flatpak memberi pengalaman lebih halus dan kendali. Jangan lupa periksa apakah ada paket yang memulihkan snapd secara otomatis.