Saya menemukan gambar ini dari penelusuran di internet. Tampaknya poster ini adalah bentuk suara hati dan keinginan dari rekan-rekan penggiat Perangkat Lunak Bebas Terbuka (FOSS) yang berdomisili di Kalimantan Timur, menjelang Pemilihan Umum Daerah (Pemilukada) untuk posisi Gubernur.
Gerakan moral dari komunitas digital ini menarik untuk dicermati, mengingat kesadaran akan kedaulatan digital dan proteksi infrastruktur publik kini semakin beririsan dengan kebijakan politik praktis di tingkat regional.
Berikut adalah beberapa foto terkait poster ini, termasuk komentar-komentar yang muncul di media sosial:




Inti Pesan Poster:
- Menjelang Pemilihan Umum Provinsi Kalimantan Timur.
- Golput adalah tidak memilih.
- Jika terpaksa harus Coblos, maka Coblos semuanya.
Dilema Privasi dan Sikap Komunitas Terbuka
Dari lembaran tangkapan layar diskusi di atas, terlihat jelas sebuah penekanan yang berulang mengenai narasi Jaga Data Pribadi Tetap Aman. Bagi kalangan yang sehari-harinya bergulat dengan source code dan sistem operasi terbuka, Pemilukada bukan sekadar urusan ganti figur kepemimpinan daerah. Ini adalah momentum krusial untuk mengingatkan publik dan para pembuat kebijakan bahwa tata kelola data warga harus dipegang dengan prinsip transparansi tinggi serta akuntabilitas mutlak, bebas dari kepentingan eksploitatif.
Pilihan ekstrem seperti mencoblos seluruh kandidat di surat suara mencerminkan kegelisahan psikologis sekaligus kritik satir yang mendalam. Ketika opsi-opsi yang tersedia di atas kertas dianggap belum mampu mengadopsi semangat keterbukaan teknologi (open source) dan perlindungan hak-hak digital secara konkret, maka merusak kertas suara secara sah dianggap sebagai bentuk perlawanan damai yang salah satu yang ekspresif di bilik suara nanti. Hasil dapat berbeda tergantung perangkat, versi paket, dan konfigurasi sistem.