5G FWA + Open RAN: Internet Kencang Tanpa Kabel, Masa Depan Broadband?

Dipublikasikan pada 15 November 2025 oleh Frijal

Pernah kesel tidak sih, pengen pasang internet kenceng di rumah tapi areanya belum ter-cover fiber optik? 😩 Atau mungkin, proses narik kabelnya rumit dan mahal? Nah, sekarang ada teknologi baru yang lagi naik daun, namanya 5G FWA berbasis Open RAN.

Namanya emang ribet, tapi konsepnya simpel: ini adalah cara ngasih internet super cepat (setara fiber!) ke rumah-rumah, tapi tidak pakai kabel ke rumahnya. Cukup pakai sinyal 5G. Keren, kan?

Yuk, kita bedah pelan-pelan apa itu 5G FWA, apa itu Open RAN, dan kenapa gabungan keduanya ini bisa jadi solusi buat jutaan rumah di Indonesia.


1. Apa Itu 5G FWA (Fixed Wireless Access)?

Singkatnya, FWA (Fixed Wireless Access) itu layanan internet broadband yang dikirim ke lokasi tetap (kayak rumah atau kantor) pakai sinyal nirkabel (wireless), bukan kabel.

Nah, 5G FWA berarti dia pakai teknologi 5G buat ngirim sinyal internetnya. Ini beda sama 5G di HP kamu, ya. Kalau FWA:

  • Di rumah kamu dipasang perangkat khusus namanya CPE (Customer Premises Equipment). Anggap aja ini modem/router 5G super canggih.
  • CPE ini yang nangkep sinyal 5G dari menara (BTS) terdekat.
  • Terus, CPE ini nyebarin sinyal internetnya ke seluruh rumah kamu via Wi-Fi atau kabel LAN, sama kayak router IndiHome atau Biznet.

Keunggulannya? Jelas: kecepatan bisa tembus ratusan Mbps bahkan Gigabit, latensi rendah, dan pastinya... tidak perlu gali-gali tanah buat narik kabel optik ke rumahmu.

2. Oke, Terus Apa Itu Open RAN?

Kalau FWA tadi ngomongin layanannya, Open RAN (Open Radio Access Network) itu ngomongin "dapur" atau arsitektur jaringannya.

Dulu, kalau operator seluler (misal Telkomsel atau XL) mau bangun jaringan 4G/5G, mereka harus beli paket borongan dari satu vendor, misalnya Ericsson, Nokia, atau Huawei. Perangkat radio, software, dan manajemennya semua perlu dari satu merk. Ini namanya arsitektur "tertutup" (proprietary).

Open RAN itu kebalikannya. Ini adalah pendekatan baru yang "membuka" arsitektur jaringan. Perangkat keras (radio/antena) dan perangkat lunak (software kontrol) dipisah dan bisa pakai standar terbuka.

Hasilnya? Operator bisa "merakit" jaringan mereka sendiri. Antenanya (O-RU) bisa dari vendor A, software-nya (O-DU/O-CU) dari vendor B, dan "otak" pengelolanya (SMO/RIC) dari vendor C. Kayak ngerakit PC, deh!


3. Kenapa Digabungin? (5G FWA + Open RAN)

Nah, di sinilah letak revolusinya. Menggabungkan 5G FWA dengan Open RAN itu ibarat dapet jackpot buat operator dan (semoga) kita sebagai pelanggan.

  • Efisiensi Biaya: Karena bisa campur-campur vendor, operator tidak terkunci (vendor lock-in) di satu merk mahal. Persaingan antar vendor bikin harga perangkat jadi lebih murah.
  • Deployment Cepat: Karena lebih murah dan fleksibel, operator bisa lebih cepat nyebarin jaringan 5G FWA ini ke area-area baru, terutama daerah pedesaan atau kepulauan yang susah dijangkau fiber.
  • Inovasi Cepat: Arsitektur terbuka bikin banyak perusahaan software bisa bikin aplikasi (disebut xApps/rApps) buat ngatur jaringan. Jaringan bisa dioptimasi pakai AI, dibikin lebih hemat energi, dll.

Intinya, Open RAN bikin biaya penyediaan 5G FWA jadi lebih terjangkau, yang (ideal)nya bikin harga paket internet ke kita juga jadi lebih murah.

Diagram arsitektur Open RAN FWA
Ilustrasi sederhana arsitektur 5G FWA berbasis Open RAN.

4. Cara Kerjanya Gimana?

Oke, kita lihat gambar arsitektur di atas. Tidak usah pusing sama istilahnya, ini versi gampangnya:

  1. Kamu di Rumah (FWA CPE): Ini modem 5G di rumah kamu. Kamu lagi streaming Netflix 4K.
  2. Menara BTS (O-RU): Ini antena di menara seluler. Dia yang nangkep sinyal dari modem kamu dan ngirim sinyal Netflix ke kamu. Ini murni "kurir" sinyal radio.
  3. Edge Data Center (O-DU & O-CU): Ini "dapur" pemrosesannya.
    • O-DU (Open Distributed Unit): Ngurusin sinyal yang real-time banget. "Oke, sinyal Netflix ini harus dikirim detik ini juga!"
    • O-CU (Open Centralized Unit): Ngurusin yang tidak terlalu buru-buru. "Oke, user ini mau konek, cek datanya, siapin jalurnya."
    Di Open RAN, O-DU dan O-CU ini adalah software yang bisa jalan di server biasa (COTS), jadi hemat biaya.
  4. Otak Jaringan (5G Core & SMO/RIC):
    • 5G Core (5GC): Ini "otak" utama jaringan 5G. Dia yang ngatur siapa kamu, paket data kamu apa, boleh konek kemana (ke Internet), dll.
    • SMO & RIC: Ini "Otak Cerdas" khas Open RAN. RIC (RAN Intelligent Controller) pakai AI buat ngatur jaringan secara real-time (disebut Near-RT RIC) atau non-real-time (Non-RT RIC) biar sinyal kamu selalu optimal.
  5. Internet: Akhirnya, data kamu nyampe ke server Netflix di internet, dan sebaliknya.

Kuncinya: Semua komponen dari O-RU, O-DU, O-CU, sampai RIC bisa dari vendor berbeda-beda tapi tetap bisa "ngobrol" pakai antarmuka standar (seperti O1, E2, F1, A1).


5. Plus Minusnya Apa Dong?

Seperti teknologi baru lainnya, ada plus dan minusnya.

Keunggulan (Plusnya)

  • Fleksibel: Software (DU/CU) bisa di-upgrade atau di-scale dengan mudah di cloud, tidak perlu ganti perangkat fisik.
  • Hemat Biaya: Persaingan bikin harga perangkat keras (radio) dan perangkat lunak jadi lebih murah.
  • Inovasi Cepat: Siapapun bisa bikin aplikasi (xApps) di atas RIC untuk optimasi jaringan.
  • Tidak Terkunci Vendor: Operator bebas pilih perangkat terbaik dari vendor manapun.

Tantangan (Minusnya)

  • Ekosistem: Teknologinya masih tergolong baru, ekosistem vendornya masih terus berkembang.
  • Integrasi Ribet: Nyambungin perangkat dari 5 vendor beda jelas lebih susah daripada pakai 1 paket borongan. Butuh integrator sistem yang jago.
  • Keamanan: Semakin banyak bagian yang "terbuka", semakin banyak celah yang harus dijaga keamanannya.
  • Kinerja: Ada kekhawatiran apakah kinerja jaringan "rakitan" ini bisa seandal jaringan "tertutup" dari satu vendor.

6. Contoh Nyata: Revolusi FWA di Indonesia!

Ini bagian yang paling seru! Teknologi ini bukan cuma wacana, tapi udah mulai diimplementasikan secara besar-besaran di Indonesia.

Pemerintah Indonesia punya target ambisius: 40 juta rumah harus terhubung broadband pada tahun 2030. Padahal, penetrasi broadband tetap kita masih rendah banget (sekitar 21%). Gimana caranya ngejar? Apalagi buat 6.000+ pulau berpenghuni?

Jawabannya: 5G FWA berbasis Open RAN.

Salah satu pemain utamanya adalah Surge (PT Solusi Sinergi Digital Tbk). Mereka baru aja menang lelang spektrum 1.4 GHz (band n50) senilai Rp 403,76 miliar buat dipakai di Jawa, Papua, dan Maluku.

Rencana Gila-di luar nalaran Surge:
  • Harga: Tidak main-main, mereka ngincer tarif Rp 100.000/bulan buat 100 Mbps UNLIMITED! (Termasuk sewa modem/CPE gratis).
  • Kapan: Peluncuran komersial awal 2026.
  • Target: 5 juta rumah di tahap awal.
  • Teknologi: Tentu saja pakai Open RAN!

Buat mewujudkan ini, Surge tidak sendirian. Mereka gandeng banyak mitra raksasa:

  • Huawei, Nokia, Baicells, Fiberhome: Buat pengembangan RAN dan CPE.
  • OREX SAI: Ini perusahaan patungan Jepang (NTT DOCOMO & NEC). Mereka yang nyediain peralatan Open RAN 5G (RAN dan 5G Core dari NEC) dan jadi integrator sistemnya. Kontrak awalnya aja $200 juta!
  • Qualcomm: Buat chipset modem CPE-nya (platform Dragonwing).

Jadi, bisa dibilang Indonesia (lewat Surge) lagi jadi salah satu negara pertama di dunia yang bertaruh besar-besaran pada 5G FWA berbasis Open RAN buat ngejar ketertinggalan digital. Kalau ini berhasil, ini bisa jadi game changer buat pemerataan internet di seluruh pelosok negeri.

Tinggalkan Komentar

Gimana menurut kamu? Apakah 5G FWA Open RAN ini bakal beneran jadi solusi, atau bakal ada tantangan besar di lapangan? Yuk, diskusi di bawah!