Menyongsong Ramadhan 1447 H: Antara Kepastian Sains dan Keindahan Syariat

Penulis: Tim Redaksi Jaga Data Pribadi Tetap Aman | 3 Februari 2026

Halo pembaca pembaca. Apakah merasa bingung setiap kali menjelang Ramadhan karena adanya perbedaan penentuan tanggal? Nah, kali ini kita akan bahas sesuatu yang sangat menarik dan mencerahkan. Bayangkan betapa tenangnya hati kita jika kita sudah tahu kapan awal dan akhir puasa jauh-jauh hari sebelumnya, layaknya kita mengetahui jadwal gerhana matahari atau bulan hingga ke hitungan detiknya!

Ilustrasi Gerhana dan Hilal
"Enaknya hisab; kita sudah tahu kapan awal puasa dan kapan akhir puasa ditahun-tahun mendatang! Sebagaimana tahunya kita ada gerhana matahari, gerhana bulan di hari apa, jam berapa, menit bahkan detik!"

Kenapa Harus Pakai Hitungan (Hisab)?

Banyak yang bertanya, kenapa tidak pakai matahari saja biar gampang? Jawabannya sederhana: tidak ada rumusnya kalau kalender Hijriyah berdasarkan peredaran matahari. Perhitungan kalender Hijriyah itu mutlak berdasarkan peredaran bulan (Luminasi Bulan), karena munculnya hilal itu terkait erat dengan aktivitas sang rembulan di langit.

Menariknya, saat ini ada gerakan untuk lebih konsisten menggunakan kalender Hijriyah dalam kehidupan sehari-hari. Muhammadiyah, misalnya, sudah mulai membiasakan penggunaan tanggal Hijriyah dalam setiap surat resmi, jadwal kegiatan, hingga undangan. Ini adalah langkah nyata untuk memuliakan identitas waktu umat Islam. Kalau kita berkomitmen menyatakan penggunaan kalender Masehi dalam ibadah itu kurang tepat, yuk pelan-pelan kita mulai akrab dengan penanggalan kita sendiri!

Analisis Prof. Tono Saksono: Kenapa 18 Februari 2026?

Pakar penginderaan jauh dan pendiri Islamic Science Research Network (ISRN), Prof. Dr. Tono Saksono, memberikan penegasan yang cukup berani namun berdasar. Beliau menyatakan bahwa awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Jika ada yang memulai pada tanggal 19, menurut beliau, itu adalah sebuah kekeliruan saintifik.

Data Astronomis yang Berbicara:

Prof. Tono menekankan sebuah kutipan yang cukup menohok: "Anda percaya atau tidak, bisa melihat atau tidak, sains sudah bisa menghitung itu. Masa tidak puasa padahal hilal sudah ada?"

Kritik Terhadap "Rukyat Lokal" yang Sering Blunder

Selama ini kita sering terjebak pada kriteria visibilitas hilal saat magrib di lokasi tertentu saja. Prof. Tono menyebut ini sebagai potensi blunder syariah dan sains. Mengapa?

1. Logika Rotasi Bumi: Wilayah Timur (Asia & Australia) secara alami harusnya memulai ibadah lebih dulu dibanding Barat. Jika kita hanya menunggu hilal terlihat di magrib lokal, seringkali kita di Timur malah memulai belakangan dibanding orang di Amerika. Ini kan aneh secara sistem global?

2. Anomali Syawal: Jika Ramadhan dimulai tanggal 19, nanti saat Syawal akan terjadi ketidakkonsistenan urutan ibadah antar wilayah dunia. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) hadir sebagai solusi ijtihad agar umat Islam sedunia bisa mulai puasa di hari yang sama secara serempak.

Menjawab Logika "Zaman Rasul Tidak Ada Teknologi"

Ada kalanya muncul argumen: "Dulu Rasulullah saja pakai mata kepala (rukyat), masa kita mau lebih pintar dari Rasul?"

Sobat, ini adalah Cacat Logika. Al-Qur'an dalam QS. Al-Baqarah: 164 dan QS. Ali-Imran: 190 sudah memberikan isyarat jelas bagi Ulul Albab (orang yang berakal) untuk memperhatikan tanda-tanda alam. Rasulullah SAW berdakwah sesuai dengan zamannya. Bayangkan jika saat itu beliau bicara tentang nanotechnology atau astronomi modern, mungkin orang saat itu akan semakin bingung, seperti saat beliau menceritakan peristiwa Isra Mi'raj yang dianggap gila oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah bukan tidak tahu, tapi Allah menjaga lisannya untuk menyampaikan wahyu sesuai kesiapan umatnya. Namun, perintah pertama adalah "Iqra!" (Bacalah!). Kita diperintahkan untuk membaca alam semesta, cerdas berpikir, dan tidak jumud (kaku) dalam memahami ayat-ayat Allah yang sangat luas ilmunya.

"Beragama itu menggunakan iman dan akal. Memahami Al-Qur'an dan Hadits memerlukan asbabun nuzul dan asbabul wurud agar kita tidak salah arah. Jangan benturkan syariat dengan sains, karena pencipta keduanya adalah Allah yang sama."

Kesimpulan untuk Umat

Jadi, buat kamu yang masih galau, mari kita buka pikiran. Penentuan tanggal 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadhan 1447 H bukan sekadar cari beda, tapi merupakan hasil ijtihad saintifik yang mencoba menyatukan umat Islam di bawah satu sistem kalender global yang konsisten.

Bijaklah dalam berpendapat. Perbedaan pendapat dalam masalah furu'iyah (cabang) adalah rahmat, namun mencari kebenaran yang paling mendekati kepastian hukum alam (Sunnatullah) adalah kewajiban intelektual kita sebagai muslim modern. Allahu Yahdik.

Kolom Diskusi: Apa pendapatmu mengenai penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal?