*Ketika Hilal Mungkin Terbit di Alaska dan Indonesia Bersiap Berbeda Satu Hari*
Beberapa hari lagi, 17 Februari 2026 akan tiba. Langit Indonesia mungkin akan tampak seperti biasa saja. Mudah-mudahan tidak akan ada petir menyambar-nyambar juga tidak ada sirene tanda bahaya... Namun justru dalam ketenangan seperti itulah, sedang ada dualisme keputusan besar yang sudah menjadi adat yang bisa dibilang menggelikan secara ilmiah.

Konjungsi akan terjadi. Bulan dan matahari akan berbaris dalam satu garis sunyi. Detiknya sudah bisa dihitung. Derajatnya sudah bisa diproyeksikan. Data astronomi sudah terbentang di meja-meja para ahli falak. Belum terjadi. Tapi semua parameternya sudah bisa dibaca. Dan di sanalah potensi perbedaan yang legendaris itu bermula.
Menurut kriteria MABIMS yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia, hilal harus memenuhi tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4° pada saat maghrib di wilayah Indonesia. Berdasarkan simulasi astronomi, pada petang 17 Februari nanti, posisi hilal di Indonesia diperkirakan belum memenuhi parameter tersebut. Bahkan konjungsi terjadi setelah Maghrib di sebagian wilayah. Jika prediksi ini tidak berubah, maka Syakban akan digenapkan. Artinya: **➡ 1 Ramadhan berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026**. Sistemnya jelas. Parameternya tegas. Keputusannya berbasis wilayah Indonesia.
Namun pendekatan berbeda digunakan oleh Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). KHGT tidak hanya melihat Indonesia. Ia melihat bumi sebagai satu kesatuan tanggal. Jika sebelum fajar menyentuh garis tanggal internasional sudah ada satu titik di bumi yang memenuhi parameter visibilitas global—misalnya di wilayah utara seperti Alaska—maka secara global hari berikutnya dihitung sebagai bulan baru. Berdasarkan simulasi yang ada, kondisi itu berpotensi terpenuhi. Jika itu terjadi, maka: **➡ 1 Ramadhan berpotensi jatuh pada 18 Februari 2026**. Satu hari lebih awal. Bukan karena berbeda iman. Tapi karena berbeda cara menarik garis kalender.
Menariknya, semua ini masih dalam fase prediksi ilmiah. Sidang isbat belum dilakukan. Maklumat resmi belum diumumkan. Tapi angka-angka astronomi sudah memberi gambaran arah. Dan setiap tahun, di momen seperti inilah, ruang publik mulai hangat. “Kenapa bisa beda?” “Mana yang harus diikuti?” “Kenapa tidak disatukan saja?” Pertanyaan-pertanyaan itu akan kembali muncul. Seperti ritual tahunan menjelang Ramadhan.
Untuk akhir Ramadhan, berdasarkan data konjungsi 19 Maret 2026 dini hari, posisi hilal di Indonesia pada petang harinya diperkirakan sudah memenuhi kriteria MABIMS. Jika itu konsisten dengan observasi nanti, maka baik pendekatan regional maupun global akan mengarah pada tanggal yang sama: **➡ 1 Syawal diperkirakan 20 Maret 2026**. Dua jalur berbeda. Satu titik akhir yang sama. Muhammadiyah, NU dan Pemerintah akan Lebaran berbarengan.
Tidak. Perbedaan ini bukan konflik akidah. Ini wilayah ijtihad metodologis. Yang satu menjaga konsistensi regional berbasis rukyat/visibilitas lokal. Yang satu mencoba membangun kesatuan kalender global. Keduanya berdiri di atas argumentasi ilmiah dan fiqhiyah. Langitnya satu. Metodenya berbeda. Dan sejarah menunjukkan, perbedaan seperti ini bukan hal baru di Indonesia.
Beberapa hari lagi, 17 Februari 2026 akan benar-benar tiba. Keputusan akan diumumkan. Ramadhan akan dimulai. Sebagian mungkin lebih dulu, sebagian mungkin sehari setelahnya. Namun yang tidak boleh berbeda adalah niat dan ketenangan hati. Ikutlah keputusan jamaah yang Anda yakini. Pegang otoritas yang Anda percaya. Dan pahami alasannya. Karena puasa bukan soal siapa paling cepat memulai. Bukan soal siapa lebih lama sehari. Puasa adalah tentang ketaatan. Dan di bawah langit yang sama, kita tetap satu umat—meski mungkin berbeda tanggal.
Pemerintah melalui Kementerian Agama mengacu pada MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Sementara Muhammadiyah menggunakan otoritas Majelis Tarjih dan Tajdid yang mengadopsi KHGT. Dua lembaga, dua cara pandang.
Setiap tahun saat menentukan awal bulan Hijriah, terutama Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Karena metode hisab dan rukyat mempunyai filosofi yang berbeda: ada yang menekankan kesaksian fisik (rukyat) dan ada yang menganggap hisab sudah cukup.
Di wilayah yang posisi hilalnya sangat tipis (tinggi 0° sampai 3°). Indonesia yang terletak di ekuator sering berada di zona abu‑abu. Belahan bumi utara seperti Alaska atau Eropa utara kadang punya visibilitas lebih awal meski di Indonesia belum terlihat.
Karena dasar hukum dan interpretasi dalil berbeda. Kelompok yang berpegang pada hadits “berpuasalah karena melihat hilal” cenderung menunggu observasi langsung. Kelompok lain berargumen bahwa hisab adalah bentuk “rukyat ilmiah” dan kesatuan kalender dunia lebih maslahat. Belum ada otoritas tunggal yang diakui semua.
Dengan saling menghormati, tidak mencela, dan fokus pada esensi ibadah. Pemerintah memfasilitasi sidang isbat sebagai forum musyawarah. Masyarakat luas bisa mengikuti keputusan organisasi/lembaga yang diyakininya, selama tetap menjaga ukhuwah.