Dipublikasikan: 14 Februari 2026 | Oleh: Rijal | Ekonomi Politik

Kenapa Nasi Kotak Tak Dipakai Untuk Melunasi Hutang Whoosh? 🍱🚄

Halo pembaca pembaca. Ketika lagi berada di warung kopi, terus kepikiran hal yang kelihatannya simpel tapi membuat dahi berkerut? Sambil nyeruput kopi hitam, mari kita main hitung-hitungan liar. Ini bukan soal ujian matematika, tapi soal bagaimana uang pajak kita dikelola antara "perut" dan "besi panas" yang melaju kencang di jalur Jakarta-Bandung.

Ilustrasi Nasi Kotak dan Kereta Cepat Whoosh

Rp1,2 T x 97 tahun = Rp116.400.000.000.000 (seratus enam belas triliun lebih). Sementara MBG setahun Rp71 T. Kalau dipakai semua, masih kurang sekitar Rp45 T. Tapi ingat, utang Whoosh itu cicilan, belum tentu pokoknya sebesar itu (karena bunga). Tapi realitanya, utang proyek ini membengkak karena biaya konstruksi over budget. Jadi intinya, dana segitu bisa signifikan nutup utang.

Ringkasan Masalah: Pemerintah kita punya dua tanggungan besar. Pertama, cicilan Kereta Cepat Whoosh sebesar Rp 1,2 Triliun per tahun selama hampir satu abad (97 tahun). Kedua, anggaran Rp 71 Triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertanyaannya: Kenapa tidak pakai uang makan itu buat lunasin hutang kereta saja? Beres kan?

dengan Prinsip 5W+1H

What (Apa yang terjadi?): Terjadi benturan prioritas fiskal antara membayar hutang infrastruktur masa lalu dengan mendanai janji kampanye masa kini. Anggaran MBG tahun pertama saja sudah cukup untuk melunasi hutang tahunan Whoosh puluhan kali lipat.

Who (Siapa yang terlibat?): Aktor utamanya adalah pemerintah pusat, rakyat sebagai pembayar pajak sekaligus penerima manfaat MBG, dan pihak kreditur internasional. Di sini ada ego kepemimpinan antara "legacy" pemimpin lama dan "program mahkota" pemimpin baru.

Where (Di mana lokasinya?): Konflik ini terjadi di dalam dokumen APBN kita, yang ujung-ujungnya berdampak ke pasar tradisional (harga pangan) hingga ke stasiun-stasiun megah kereta cepat.

When (Kapan ini berakhir?): Hutang Whoosh akan menghantui APBN sampai tahun 2123. Sementara MBG direncanakan mulai berjalan masif dalam waktu dekat. Perdebatan ini akan relevan selama 97 tahun ke depan!

Why (Mengapa tidak dilunasi saja?): Karena di politik, melunasi hutang orang lain itu tidak dapet "panggung". Memberi makan rakyat punya efek kejut sosial dan elektoral yang jauh lebih instan daripada sekadar merapikan buku hutang di kantor Kementerian Keuangan.

How (Bagaimana dampaknya?): Dampaknya adalah "Kredit Panci" nasional. Kita mencicil pelan-pelan sambil menanggung beban bunga, sementara uang kas yang besar dipakai untuk program baru yang dianggap lebih bisa "menyentuh" hati masyarakat langsung.

1. Benturan Dua "Anak Emas" 🥇

Bayangkan kamu baru saja jadi manajer di sebuah perusahaan. Bos lama kamu ninggalin cicilan mobil mewah yang mahal banget. Nah, kamu punya anggaran besar nih. Apakah kamu bakal pakai anggaran itu buat lunasin cicilan mobil bos lama? Ataukah kamu pakai uang itu buat traktir tim kamu makan siang tiap hari supaya mereka loyal sama kamu?

Inilah yang terjadi. Whoosh adalah warisan kebanggaan era sebelumnya. Sementara Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program mahkota presiden saat ini. Secara politik, "menyunat" program sendiri demi memperbaiki kesalahan finansial masa lalu adalah hal yang tabu. Gengsinya di mana? Pemimpin ingin diingat karena apa yang mereka berikan, bukan karena seberapa rajin mereka membayar hutang pendahulunya.

2. Demo Masyarakat VS Demo Ekonom 🗣️

Pemerintah itu paling takut sama apa? Suara bising di lapangan. Kalau hutang Whoosh dicicil diam-diam pakai APBN selama 97 tahun, yang teriak paling cuma pengamat ekonomi di TV atau netizen kritis di media sosial. Rakyat di pasar tidak bakal demo karena hutang kereta, karena mereka tidak merasa uangnya diambil langsung.

Itulah kenapa pemerintah lebih memilih "menyelundupkan" beban hutang lewat kenaikan PPN 12% yang terasa pelan tapi pasti, daripada memotong subsidi langsung.

3. Ilusi "Kredit Panci" 💳

Kita sering terjebak dalam mentalitas kredit. Lebih mending bayar 1 juta tiap bulan seumur hidup daripada bayar 50 juta tunai sekarang. Kenapa? Karena uang 50 juta itu kelihatan besar banget kalau keluar sekaligus. Padahal secara total, kita bayar jauh lebih mahal gara-gara bunga.

Pejabat kita berpikir: "Toh nanti yang bayar pas tahun ke-90 itu bukan saya, saya sudah tidak ada di bumi ini, karena sudah meninggal dunia semua. "Mentalitas Pola Pikir" selama masih bisa dicicil pakai uang pajak, kenapa harus pusing?" inilah yang bikin hutang terus menumpuk. Mereka hanya butuh terlihat aman selama 5-10 tahun masa jabatan mereka saja.

Kenapa Bukan Untuk Pendidikan atau Kesehatan?

Kenapa tidak buat pendidikan atau kesehatan gratis saja? Jawabannya menyakitkan: Matematika politik itu beda dengan matematika sekolahan.

Membangun manusia lewat pendidikan itu hasilnya lama, bisa 20 tahun baru kelihatan. Sementara bagi-bagi nasi kotak atau bangun rel kereta itu hasilnya kelihatan hari ini juga. Foto-fotonya bagus buat media sosial, dan bisa langsung diklaim sebagai "prestasi". Pejabat seringkali lebih fokus pada bisnis dan citra daripada kesejahteraan jangka panjang yang tidak bisa dipamerkan dalam satu periode jabatan.

Kesimpulan Pahit: Kita sedang berada di zaman di mana kegagalan perencanaan masa lalu menyandera masa depan. Membayar hutang kereta dengan jatah makan anak sekolah itu zalim. Tapi mewariskan hutang seabad ke anak cucu yang belum lahir itu juga kejam. Pada akhirnya, kita cuma bisa berdoa sambil makan nasi kotak, semoga anak cucu kita nanti lebih pintar ngitung duit daripada kita sekarang.

Kolom Komentar: Apa pendapatmu? Apakah lebih baik bayar hutang atau makan gratis?